Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Masjid Cheng Ho: Ruang Publik dan Perjumpaan Lintas Etnis

Masjid-masjid Cheng Ho yang ada bukan sekadar masjid untuk beribadah semata, lebih dari itu, membawa pesan perdamaian sekaligus komunikasi lintas etnis

© Kent Lim/wandernesia.com

BEBERAPA TAHUN LALU, saya berkunjung ke Masjid Cheng Ho di Surabaya untuk sebuah kepentingan riset. Waktu itu, saya datang di siang hari, tepat waktu Zuhur di kawasan Surabaya dan sekitarnya. Bersyukur, karena Masjid Cheng Ho membuka mata saya betapa ruang-ruang ibadah untuk menguatkan agama, akhirnya beresonansi menjadi ruang publik dalam makna yang luas.

Masjid Cheng Ho yang terletak di kawasan Ketabang, Genteng, Surabaya ini berarsitektur unik. Menurut informasi dari pengelola, arsitektur masjid ini terilhami oleh model bangunan Masjid Niu Jie, Beijing. Langit-langit masjid terhiasi oleh ornamen seni kaligrafi dan aksara China. Sedangkan atap masjid berbentuk persegi delapan yang menyerupai sarang laba-laba. Model atap masjid ini ditamsilkan dan terinspirasi dari kisah sarang laba-laba yang menjadi tempat persembunyian Nabi Muhammad ketika dikejar kaum Quraish kala masa-masa awal berdakwah.

Pada dinding utara masjid, terdapat relief Laksamana Cheng Ho beserta miniaturnya. Relief ini memberi pesan kepada setiap pengunjung untuk belajar dari Cheng Ho, yang dipercaya sebagai utusan dinasti Ming untuk membawa kabar perdamaian. Silang budaya yang terjadi antara rombongan Cheng Ho dengan penduduk lokal di beberapa kawasan Nusantara menjadi penandanya.  

Pada waktu itu, saya merasakan betapa Masjid Cheng Ho di tengah kota Surabaya itu menjadi rujukan bagi warga lintas etnis untuk melakukan berbagai macam kegiatan, selain salat jemaah tentunya. Ada yang sekedar mengaso melepas lelah, ada penjual jajanan yang istirahat setelah berjam-jam berjualan, ada beberapa pemuda pekerja kantoran yang memang datang untuk salat, dan sebagainya.

Masjid Cheng Ho ini pun tidak hanya didatangi orang-orang Tionghoa, tapi juga warga lintas etnis yang lain. Boleh dikata, masjid ini telah menjadi ruang publik. Dalam artian, masjid tidak hanya terbatas fungsinya sebagai ruang ibadah keagamaan atau ritual semata, tetapi lebih dari itu: punya makna dan fungsi yang lebih luas. Masjid Cheng Ho menjadi sarana asimilasi lintas budaya secara alami, ruang untuk mempertemukan warga lintas etnik dari berbagai strata, berbagai penjuru. Dari ruang ini, terjadi dialog yang berfungsi memperluas pemahaman terhadap Tionghoa di Indonesia.

Jika selama ini orang-orang Tionghoa sering disalahpahami, bahkan sebagian dibenci, cobalah berkunjung ke Masjid Cheng Ho. Rasakan getaran aura dan pesan baik yang tersampaikan lewat pembangunan masjid ini. Resapi makna terdalam bagaimana orang-orang Tionghoa juga bagian dari Indonesia, mereka tidak terpisahkan dari republik ini.

Legasi Cheng Ho

Masjid Cheng Ho Surabaya dibangun oleh pengurus Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), pengurus Yayasan Masjid Muhammad Cheng Hoo, serta didukung oleh beberapa tokoh Surabaya. Pada 2002, masjid ini resmi berdiri, yang kemudian menjadi ikon wisata religius, menjadi masjid rujukan untuk belajar asimilasi Tionghoa muslim.

Menurut catatan dari pengelola, masjid ini dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho, seorang bahariawan dinasti Ming yang melakukan muhibah laut sebanyak tujuh kali pada abad ke-15. Cheng Ho lahir pada 1371 di Yunnan, putra dari Haji Ma (马哈只), yang kemudian mengabdi kepada dinasti Ming hingga menjadi duta yang memimpin ekspedisi laut terbesar sepanjang sejarah China. Cheng Ho melakukan misi diplomatik mengunjungi berbagai kawasan di belahan dunia ini pada tahun 1405-1433.

Ketika berlayar di kawasan Nusantara, Cheng Ho mengunjungi beberapa kawasan dari pesisir Aceh hingga ujung timur pulau Jawa. Tan Ta Sen, seorang sarjana Singapura, dalam buku Cheng Ho and Islam in Southeast Asia (2009) mengungkap dengan jelas bagaimana pengaruh Cheng Ho dalam keberislaman di Nusantara. Menurut Tan Ta Sen, Cheng Ho melewati beberapa kawasan: Aceh, Palembang, Cirebon, Semarang, Lasem, Tuban, hingga Surabaya.

Jejak para pengikut Cheng Ho ini masih kental dalam tradisi Nusantara. Di antaranya beberapa motif batik di Cirebon dan Lasem, yang terpengaruh oleh tradisi membatik yang dibawa oleh anak buah Cheng Ho.

Di Lasem, terdapat sebuah kawasan yang menandai jejak pengikut Cheng Ho, yakni Bi Nang Un. Ia merupakan anak buah Cheng Ho, yang kemudian menetap di pesisir timur Lasem. Bi Nang Un inilah yang mewariskan tradisi membatik di Lasem yang masih lestari hingga saat ini. Kisah tentang Bi Nang Un, bisa disimak lebih jauh dalam buku yang saya tulis, Lasem Tiongkok Kecil: Interaksi Tionghoa, Arab dan Jawa dalam Silang Budaya Pesisiran (2014).

Cheng Ho punya pengaruh besar dalam silang budaya di Nusantara. Pengaruh ini juga membentuk lanskap Islam di pesisir Jawa, khususnya dalam hal menyerap keunikan nilai-nilai dan kultur Tionghoa. Di antaranya dalam bidang kuliner, batik, dan arsitektur.

Di bidang arsitektur, kita melihat tak sedikit masjid kita yang dibangun dengan model bangunan khas China. Bertumbuhnya Masjid Cheng Ho di berbagai kawasan juga menunjukkan hal yang menarik dalam interaksi silang budaya. Masjid Cheng Ho di Surabaya menjadi penanda penting bagaimana tantangan kebhinekaan dijawab dengan menghadirkan ruang publik untuk menyemai pengaruh dan memperluas komunikasi.

Setelah Masjid Cheng Ho di Surabaya, masjid-masjid berarsitektur serupa juga dibangun di beberapa daerah. Di antaranya: Palembang (2016), Kutai Kartanegara (2007), Jambi (2012), Gowa (2014), Banjarmasin (2014), Batam (2015), Banyuwangi (2016), Samarinda (2017).

Perkembangan ini sangat  menarik dalam diskursus komunitas Tinghoa dan ruang publik kita. Saya melihat masjid-masjid Cheng Ho yang ada bukan sekadar masjid untuk beribadah semata, lebih dari itu, membawa pesan perdamaian sekaligus komunikasi lintas etnis. Di tengah meningkatnya arus kebencian terhadap etnis minoritas di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, menengok kembali Masjid Cheng Ho sebagai ruang publik perjumpaan lintas kelompok, akan menjadi petualangan yang memberi kesan dan nilai tersendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?