Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Deng Xiaoping: Bapak Pembangunan China yang Sempat Dicap Sesat

© 朱自尊/people.com.cn

CHINA adalah negara komunis, dan komunisme identik dengan pemerintahan yang otoriter, rakyat yang ditindas penguasa, hidupnya miskin, terbelakang …. Pokoknya gak ada benernya deh.

Begitulah persepsi umum di negara-negara yang anti-China.

Persepsi tersebut sepertinya memang sulit dibantah, paling tidak sampai akhir abad ke-20 silam.

Namun, memasuki abad ke-21, data-data statistik sudah tidak bisa lagi mendukung persepsi demikian. China maju pesat dalam bidang ekonomi, industri, perdagangan internasional, dan tentunya pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Deng Xiaoping, pemimpin tertinggi China yang mencanangkan kebijakan nasional modernisasi pada akhir 1970-an, dianggap sebagai tokoh kunci perubahan kebijakan yang kemudian bisa menyulap China hingga sejaya sekarang.

Karena itu, Deng sering dielu-elukan sebagai tokoh hebat karena mampu berpikir dan bertindak pragmatis.

Sayangnya, jarang ada yang bertanya atau berusaha mencari tahu mengapa Deng begitu berbeda dengan para pemimpin Partai Komunis China (PKC) lainnya. Tak banyak pula yang menyinggung pengalamannya belajar dan bekerja di Perancis di masa muda.

* * *

Deng lahir di Provinsi Sichuan pada 1904. Ketika ia berusia 10 tahun, pada 1914, pecah perang di Eropa (Perang Dunia I). Pemerintah China, yang waktu itu belum dikuasai PKC, bergabung dengan kubu Inggris dan Perancis untuk melawan Jerman –dengan mengirimkan sekitar 140.000 tenaga kerja ke Eropa sebagai buruh pengangkut logistik.

Tahun 1918, perang di Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman.

Lantas, diselenggarakanlah Konferensi Paris antara kubu yang menang dengan kubu yang kalah perang pada 1919. China sebagai anggota dari kubu yang menang perang, menuntut agar wilayah teritori China, yaitu Provinsi Shandong (tanah kelahiran Konghucu), yang dikuasai Jerman sejak 1897, dikembalikan ke China.

Tiba-tiba Jepang, yang juga ikut kubu Inggris dan Perancis, menuntut agar Shandong diserahkan Jerman kepada Jepang saja. China bergegas minta dukungan Inggris, Perancis, dan Amerika, tapi ditolak –sehingga Shandong akhirnya diberikan ke Jepang.

Peristiwa ini menggemparkan China dan menyadarkan generasi muda kelas menengahnya bahwa China harus berusaha meningkatkan kekuatan nasional melalui peningkatan mutu SDM, agar nanti tidak lagi dihina oleh bangsa-bangsa asing.

Untuk meningkatkan mutu SDM, mereka berusaha melanjutkan studi ke negara-negara maju –setelah sebelumnya menyelesaikan pendidikan matrikulasi di lembaga pendidikan dalam negeri.

Kebetulan, ada pengusaha China yang sudah menetap dan membuka pabrik tahu di Perancis, dan bersedia memfasilitasi serta mendanai para pemuda China yang berminat studi sambil bekerja di sana.

* * *

Nah, Deng yang berusia 16 tahun pada 1920, ikut rombongan mahasiswa China, berangkat dari Pelabuhan Shanghai menuju Marsaille di Perancis selatan.

Deng awalnya berniat untuk sekolah sambil bekerja. Ia belajar di salah satu sekolah di kota Bayeux, Provinsi Normandy di barat laut Perancis. Namun, karena pihak yang mendanai studinya juga sedang mengalami kesulitan ekonomi, akhirnya Deng terpaksa berhenti sekolah dan lanjut bekerja.

Menurut catatan sejarah, Deng pernah bekerja di pabrik besi baja Schneider Creusot di Perancis timur, dan di pabrik produk karet Hutchinson di Montargis, Provinsi Loiret, di selatan Paris.

Dari pengalaman bekerja di pabrik-pabrik tersebut, Deng memahami pentingnya teknologi, industri, dan produktivitas.

Selain itu, di Perancis pulalah, Deng diperkenalkan kepada ideologi komunisme –yang banyak menarik minat generasi muda di Eropa pada era 1920-an.

* * *

Pada 1927, Deng kembali ke China, yang sedang dalam kondisi perang saudara antara Partai Nasionalis (国民党 Guomindang) dengan kekuatan-kekuatan lain –termasuk Partai Komunis.

Mulanya, Deng bergabung dengan kekuatan lain, sebelum akhirnya masuk kubu Partai Komunis.

Ada peneliti sejarah yang berpendapat bahwa Deng sebetulnya bukan Marxist, tetapi nasionalis. Harapan utamanya adalah China menjadi negara kuat sehingga di masa yang akan datang tidak lagi dilecehkan oleh bangsa-bangsa lain. Dan, Deng berpendapat bahwa hanya Partai Komunis yang mampu mewujudkan harapannya tersebut.

* * *

Pada 1949, Partai Komunis keluar sebagai pemenang dalam perang saudara, dan mendirikan negara baru dengan nama Republik Rakyat China (RRC).

Para petinggi RRC sebagian besar adalah penganut ideologi komunisme ala Uni Soviet, yang menganggap kepemilikan dan inisiatif swasta di bidang ekonomi adalah pangkal malapetaka nasional. Dengan kata lain, mereka fokus pada pemerataan kue, tapi mengabaikan upaya untuk memperbesar ukuran kue.

Deng yang berhaluan pragmatis, menjadi minoritas dalam PKC, dicap ‘sesat’ dan disingkirkan.

Pada medio 1970-an, para petinggi PKC yang berhaluan komunisme ala Uni Soviet, seperti Mao Zedong, meninggal.

Deng, sehabis itu, kembali memangku jabatan pemimpin pemerintah pusat, dan segera mulai menerapkan kebijakan pragmatisnya untuk mewujudkan cita-citanya sejak muda: menjadikan China sebagai negara yang kuat dan bermartabat di dunia.

Langkah pertama yang Deng lakukan adalah studi banding ke negara-negara maju.

Saat berkunjung ke Jepang pada 1978, Deng mengunjungi pabrik besi baja (New Nippon Steel), pabrik mobil Nissan, dan pabrik produk elektronik Matsushita. Menurut pengakuannya, setelah berkunjung ke pabrik-pabrik tersebut, ia memantapkan arah dan tujuan kebijakannya ke depan.

Pada 28 Januari 1979, Deng melakukan kunjungan resmi ke Amerika dengan tujuan membangun hubungan persahabatan kedua negara, setelah bermusuhan sejak 1949.

Sebagai pemimpin tertinggi China, Deng mencanangkan program kerja berdasarkan prinsip pragmatisme, yaitu memajukan pertanian, industri, dan iptek untuk meningkatkan kesejahteraan hidup.

Dalam artian: pemerintah tidak boleh terpaku pada pemerataan pembagian kue (miskin bareng), tetapi harus berusaha memperbesar kue sehingga porsi untuk masing-masing penerima, besar-besar pula. Ini berarti: peningkatan efisiensi kerja dan produktivitas akan menjadi tolok ukur dalam penilaian kinerja. Percuma paham ideologi komunisme atau -isme apalah itu, kalau gak bisa kerja, ya maaf aja yah. Kira-kira begono…


Catatan Redaksi: Deng Xiaoping kesohor dengan petuahnya, “Tak peduli kucing hitam atau kucing putih, yang bisa menangkap tikus itulah kucing yang bagus” (不管是白猫还是黑猫,能捉住老鼠就是好猫 bu guan shi bai mao haishi hei mao, neng zhuo zhu laoshu jiushi hao mao). Wejangan ini menunjukkan spirit pragmatismenya.

China pada era Mao Zedong amat politis dan ideologis. Ekonomi, karenanya, sangat terbengkalai –terlebih pada masa Lompatan Jauh ke Depan (大跃进 da yue jin) yang berlanjut dengan Revolusi Budaya (文化大革命 wenhua da geming) sepanjang tahun 60-an hingga akhir tahun 70-an Mao wafat.

Deng menjadi satu di antara tak terperikannya jumlah korban Revolusi Budaya. Ia, meski waktu itu merupakan petinggi negara dan Partai Komunis China, digencet Mao lantaran dianggap sebagai antek kapitalis (走资派 zou zi pai).

Setelah Mao mangkat, Deng kembali memangku jabatan tinggi di pemerintahan dan partai. Ia lantas merehabilitasi para korban Revolusi Budaya dan mengubah haluan kepemerintahan Partai Komunis China dari yang sebelumnya menjadikan ‘politik sebagai panglima’ ke pembangunan ekonomi yang pertama dan utama melalui kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (改革开放 gaige kaifang).

Sejak itu, Deng  (boleh juga dibaca: China) tidak lagi menghiraukan apakah sistem yang dipakainya merupakan ajaran kapitalisme atau komunisme (‘kucing hitam atau kucing putih’), yang penting bisa ‘menangkap tikus’ (menjadikan negara dan rakyat China sejahtera), akan terus mereka pakai; tapi jika sebaliknya, akan mereka buang secepatnya.

Terbukti, paling tidak sampai detik ini, pragmatisme serta pikiran yang terbuka itulah yang menjadikan China bangkit dari keterpurukannya sehingga menjadi negara yang disegani dunia.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

MENJELANG pertengahan tahun 1950-an, di bawah nama taktik Front Persatuan Nasional, Aidit dan kawan-kawan –yang baru saja merebut kepemimpinan PKI– mendekati Bung Karno dan...

Esai

Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan China. Caranya ialah dengan membaca yang tersirat, bukan melulu yang tersurat

Esai

Kalau tidak diiming-imingi akan menjadi kaya, bisa jadi tidak akan ada orang China yang percaya komunisme

Esai

Negara China memang bilang menganut ideologi komunisme, tapi satu negara itu isinya orang-orang kapitalis semua