Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

King Hoo Ping

Sebuah perayaan terhadap kematian adalah perayaan terhadap kehidupan itu sendiri

© Lui Shou Kwan 呂壽琨/artsy.net

KING HOO PING (敬和平) adalah upacara sembahyang arwah yang dilakukan pada tanggal 29 Bulan Tujuh (jit gwee 七月) menurut penanggalan Imlek —setelah sebelumnya orang Tionghoa melakukan sembahyang arwah leluhur pada tanggal 15 di bulan yang sama.

Menyembahyangi arwah adalah wujud laku Bakti (xiao 孝) sesuai hakikat Kitab Bingcu (孟子) Bab 1B Ayat 5 tentang empat orang yang paling sengsara di dunia (yaitu: duda, janda, yatim piatu, dan sebatang kara), dan juga sesuai Kitab Lun Gi (论语) Bab X Ayat 22: “Bila ada kawan atau sahabat yang meninggal dunia dan tidak memiliki waris, Nabi Konghucu bersabda, ‘Itu menjadi tugas-Ku untuk mengubur dan menyembahyangi’” (朋友死,无所归,曰:‘于我殡’).

Dalam pemikiran modern, menyembahyangi arwah bukan saja wujud laku bakti –dan yang pasti bukan untuk minta berkah atau pesugihan– tapi lebih ke arah kesadaran bahwa manusia suatu saat akan mati. 

Tuhan mengajukan pertanyaan kepada umat-Nya:

“Apa yg paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

Ada yg menjawab: “Orang tua, sahabat, teman, kerabatnya.”

Jawab Tuhan: “Yang paling dekat dengan kita adalah kematian. Sebab kematian adalah pasti dan tiap detik bisa terjadi.”

Sebuah perayaan terhadap kematian adalah perayaan terhadap kehidupan itu sendiri.

Itu kata Mitch Albom dalam novelnya Tuesday With Morrie. Di dalam novel tersebut dikisahkan bagaimana si pengarang mendampingi dosennya, Profesor Morrie, yang tengah didera sakit keras. Tiap hari Selasa ia ke rumah sang profesor untuk mendapatkan kuliah, bukan saja tentang pelajaran, tapi tentang kehidupan.

Sang profesor menghadapi kematiannya dengan gagah berani. Ia bahkan mengadakan semacam geladi resik untuk melihat bagaimana jalan upacara kematiannya nanti. 

Prof. Morrie merasa beruntung telah beroleh kepastian. Tubuhnya mulai menyerah –didera penyakit Lou Gehrig’s disease, yang perlahan melumpuhkan semua syaraf; dari kaki, perlahan ke atas– namun semangat terus menyala.

Bagi Prof. Morrie, ajal adalah wisuda yang harus dirayakan. Ia menghadapi ajal dengan keriangan yang alami –hampir kekanak-kanakan, bagai bayi baru lahir. Saat lonceng kematian menggema, tirai tabu disingkap. Kenaifan yang sungguh langka. 

Membaca cara pandang Prof. Morrie terhadap kematian, menyebabkan kita berpikir ulang. Bagi Prof. Morrie, vonis ajal adalah berkah. Vonis ajal bermakna kebebasan.

Vonis ajal memberikan kepastian.

Jujur saja, kita tidak pernah tahu kapan kita akan dipanggil. Dan itu adalah siksa yang menyeret kita ke arus pretensi yang banal. Karena berjarak dengan ajal, perlahan empati terkikis, nurani membatu. Kita dikejar tenggat, lupa mencium kening istri yang pulas tertidur karena kecapekan menunggu kita pulang. Uang di atas segalanya, jabatan dan karir adalah yang terpenting.

Kita lupa, rumah bukanlah rumah tangga, obat bukanlah kesehatan, ranjang bukanlah tidur, seks bukanlah cinta. Kita sering lupa, sesungguhnya ajal senantiasa mengintai. Kepleset di kamar mandi, naik pesawat dan pilotnya mabuk, lewat perempatan dan ditubruk truk yang remnya blong…  

Seandainya sepucuk pistol ditodongkan di kening kita dan kita tahu apa pun yang kita jawab kita tetap ditembak mati; mendadak kita jadi santai, rileks.

Nothing to lose.

Semua kesadaran terbuka, semua pembuluh darah dan senyum melebar. Kita menjadi muara, kita adalah samudra.

Merayakan King Hoo Ping adalah mengingat kembali bagaimana kita menjalani kehidupan. Bagaimana suri tauladan yang pernah dilakukan dan dijalani para leluhur, keluarga, sahabat, kolega, atau siapapun yang pernah –baik secara langsung atau tidak langsung– berjasa pada kita, menjadi sebuah tuntunan bagaimana kita menjalani sisa umur yang selalu misteri.

We learn to live when we learn to die.


Catatan Redaksi: Teks asli Kitab Bingcu (孟子) Bab 1B Ayat 5 (tentang empat orang yang paling sengsara di dunia: duda, janda, yatim piatu, dan sebatang kara) yang dikutip penulis adalah, “……老而无妻曰鳏。老而无夫曰寡。老而无子曰独。幼而无父曰孤。此四者,天下之穷民而无告者。”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan