Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Tiga Alasan Mengapa China Akan Memenangkan Kontestasi Geopolitik Perubahan Iklim Dunia

© blogs.ei.columbia.edu

JIKA SERING mengamati perkembangan isu-isu internasional, dalam beberapa tahun terakhir kita akan menemukan banyak negara besar yang mulai menaruh perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan. Hal ini dikarenakan banyaknya studi yang memperkirakan bahwa dunia dalam beberapa dekade ke depan akan mengalami permasalahan yang sangat serius, seperti krisis energi dan perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Untuk itu, negara-negara mulai berlomba-lomba melakukan inovasi dan investasi dalam teknologi yang menghasilkan energi baru terbarukan (EBT) –termasuk mengadopsi kebijakan-kebijakan dan komitmen untuk memitigasi kerusakan lingkungan.

Saya rasa, bagi pengamat politik internasional maupun masyarakat umum yang melek dan up to date akan berita-berita global, pasti akan sepakat bahwa dalam persaingan ini hanya Amerika Serikat (AS), China dan Uni Eropa-lah yang selalu muncul ke permukaan sebagai pelopor energi bersih dan pembangunan berkelanjutan.

Akan tetapi, kalau boleh dengan kerendahan hati berpendapat, saya kira China terlihat berada dalam posisi memimpin dan berpotensi menjadi pemenang dalam persaingan ini.

Sebelum saya lanjut ke alasan mengapa saya berpendapat demikian, mungkin saya akan jelaskan sedikit terlebih dahulu mengenai dinamika geopolitik di abad ke-21.

* * *

Dalam studi hubungan internasional, kompetisi geopolitik telah berkembang tidak hanya terbatas pada isu-isu konvensional (seperti ekonomi, perdagangan, dan keamanan), tetapi juga mulai menyasar ke hal-hal lain seperti teknologi digital maupun perubahan iklim.

Dalam keadaan dunia yang sedang mengalami guncangan akibat pandemi COVID-19, isu terkait lingkungan dan iklim justru menjadi semakin hangat diperbincangkan.

Menariknya, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bank of America Corp, dikatakan bahwa isu “perubahan iklim akan menjadi tema utama dalam dekade ini sama seperti teknologi yang menopang ekonomi dalam dekade terakhir.

Senada dengan hal tersebut, jika kita juga cermat memerhatikan laporan tahun 2020 yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga konsultan internasional seperti Ernst & Young (EY), atau Eurasia Group, dapat terlihat bahwa isu lingkungan dan perubahan iklim masuk dalam 5 dari 10 permasalahan geopolitik yang akan dihadapi oleh dunia di tahun 2021.

Berkaca dari studi-studi yang disebutkan di atas, bisa disimpulkan bahwa isu-isu lingkungan telah mendapatkan porsi yang besar dalam dinamika geopolitik kontemporer.

* * *

Sekarang mari kita kembali ke pembahasan awal. Bagi saya, setidaknya terdapat tiga alasan mengapa China telah memimpin dalam persaingan geopolitik perubahan iklim ini.

Pertama, China telah menunjukan keberhasilan, komitmen, dan model kebijakan yang tepat dalam mendorong pengurangan emisi dalam negeri.

Sebelumnya, China sendiri telah mengalami permasalahan lingkungan yang sangat serius di dalam negeri mereka. Untuk mendukung pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang masif, China membutuhkan konsumsi energi yang besar, yang mana mayoritas masih di pasok oleh energi fosil berupa batu bara.

Alhasil, polusi yang dihasilkan menjadi luar biasa –sehingga tidak heran jika China sering disebut-sebut sebagai negara penghasil polusi dan gas emisi terbesar di dunia.

Sebenarnya, sejak pemerintahan Hu Jintao, pada awal tahun 2007, pemerintah China mulai menaruh perhatian lebih ke permasalahan lingkungan seperti menempatkan gagasan ‘ecological civilization‘ sebagai bagian dari ambisi pembangunan Partai Komunis China.

Namun rencana dan ambisi ini dibawa lebih serius ketika Xi Jinping mulai menjabat.

Pada tahun 2014, pemerintah China melalui perdana Menteri Li Keqiang mendeklarasikan ‘War on Pollution‘. Strategi yang ditekankan adalah membatasi penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara di kota-kota besar (termasuk Beijing), mengurangi produksi baja, menutup beberapa tambang batu bara dan juga mendorong penggunaan kendaraan berbasis listrik (EV) secara nasional.

Hasilnya, hanya dalam waktu 4 tahun China berhasil menurunkan angka emisinya dengan cukup signifikan.

Saya masih ingat jelas ketika menempuh studi Magister saya di China. Dalam satu mata kuliah mengenai politik dan kebijakan lingkungan di China, dosen saya yang kebetulan juga merupakan pakar politik ekologi berkata dengan sumringah di dalam kelas bahwa “China’s air quality is much better now compared to 2010.”

Untuk semakin memperkuat komitmen dalam pengurangan karbon, pemerintah China merancang program Air Pollution Control Action Plan untuk menetapkan target pembatasan emisi, termasuk mengontrol polusi di sumbernya. Selain itu, pemerintah juga menempatkan pembiayaan hijau dan investasi pada energi terbarukan dalam 13th Five-Year Plan (2016-2020) yang merupakan rencana inisiatif pembagunan sosial dan ekonomi China setiap lima tahun.

Keberhasilan China dalam mengurangi emisi dalam negeri tentu membuat mereka menjadi semakin percaya diri untuk menunjukan kapasitasnya sebagai pemimpin dalam mendorong pengurangan emisi global.

Kedua, China merupakan pelopor dan investor terbesar pada teknologi EBT di dunia.

Teknologi EBT yang memanfaatkan energi dari sinar matahari, angin, dan arus laut, memiliki ongkos yang sangat besar dari sisi instalasi dan juga logistik –sehingga membutuhkan waktu yang panjang untuk bisa diimplementasikan secara luas.

Tetapi, dalam perkembangannya, China ternyata telah menjadi pelopor dalam pengembangan EBT secara teknologi maupun investasi.

Menurut laporan terbaru dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa(UNEP) mengenai tren global dalam investasi energi terbarukan, China telah menjadi investor terbesar global dalam proyek EBT sejak 2012, mengalahkan AS dan juga negara-negara Eropa.

Selain itu, melalui rencana Belt and Road Initiative (BRI), pemerintah telah menstimulasi pelaku bisnis energi untuk melakukan ekspansi proyek-poyek teknologi berbasis tenaga air (atau dam) ke negara-negara berkembang secara khusus di wilayah Afrika, Artik, dan juga beberapa negara di Asia Tenggara.

Dari sektor kendaraan elektrik, perusahaan EV China yang bernama Nio juga mulai melakukan ekspansi ke negara-negara lain dan bahkan disebut-sebut sebagai saingan terkuat Tesla milik Elon Musk.

Terlepas dari permasalahan dan dinamika sosial yang ada di setiap negara di mana investasi China ditujukan, tetapi setidaknya China telah dengan pelan tapi pasti mencoba untuk merebut pangsa pasar EBT dan teknologi yang ramah lingkungan secara global.

Ketiga, China aktif bersuara di forum-forum internasional mengenai perubahan iklim dan lingkungan.

Pada Perjanjian Iklim Paris tahun 2015, AS dan China Bersama-sama sepakat untuk meratifikasi traktat untuk mengurangi emisi karbon.

Namun, pada masa pemerintahan Trump, pada tahun 2017 dia mengungkapkan intensinya untuk keluar dari perjanjian ini. Bahkan, secara resmi mengundurkan diri dari kerja sama Perjanjian Iklim di Paris pada November 2020. Padahal, AS sendiri merupakan salah satu kontributor emisi terbesar di dunia.

Pada saat yang bersamaan, China justru memanfaatkan momentum ketika Trump menarik diri dari pelbagai kerja sama internasional dengan membagun narasi bahwa China akan benar-benar bebas emisi pada tahun 2060.

Bahkan dalam Belt and Road Forum (BRF) terakhir, China menekankan bahwa strategi eskpansi proyek BRI ke negara lain akan senantiasa berfokus pada pembangunan hijau dan berkelanjutan.

Retorika seperti ini tentu tidak hanya mendapatkan respon positif dari banyak negara, tetapi juga semakin memperkuat posisi teguh China di mata internasional.

Demikian merupakan tiga alasan utama mengapa China telah menjadi pemain utama dalam pertarungan geopolitik ini.

* * *

Meskipun China merupakan produsen gas rumah kaca terbesar di dunia, tetapi dari narasi yang dibangun secara terus-menerus bersamaan dengan investasi dan teknologi EBT mereka yang begitu maju tentu akan membuat kita bertanya-tanya: Apakah mungkin China akan terus menjadi pemimpin dalam persaingan ini?

Saya mungkin berpendapat bahwa China telah dan akan menjadi pemimpin dalam pergelutan ini.

Namun, persaingan jelas tidak akan berhenti sampai di situ. Kita harus ingat bahwa presiden baru AS, Joe Biden, mungkin akan mengeluarkan kebijakan yang bakal membuat perlombaan menjadi semakin panas.

Tidak seperti Trump, Biden memperhitungkan kontestasi geopolitik perubahan iklim adalah salah satu arena persaingan yang signifikan bagi AS. Penyataannya untuk mengembalikan posisi AS ke dalam kesepakatan Paris sudah menjadi langkah awal yang konkret bagi Biden untuk kembali menantang China.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

DELEGASI tingkat tinggi Taliban yang dipimpin Kepala Kebijakan Politik Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar berkunjung ke China dan, pada Rabu (28/7) kemarin, menghelat pertemuan...

Kongkow

BELUM lama ini, sebuah kanal Youtube mengunggah cuplikan video pidato Presiden China Xi Jinping dan, sepertinya, sengaja menerjemahkannya secara asal-asalan. Video itu kemudian viral...

Esai

BILA sungai-sungai di Asia dimisalkan sebagai pipa air, maka Tibet adalah menara airnya. Dataran tinggi Tibet merupakan induk dari sungai-sungai besar di Asia seperti...

Esai

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur...