Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Mencipta Ritual

Agama atau ritual jangan terlalu kaku atau baku, harus bisa tumbuh dan berkembang, menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan zaman dan perubahan

© en.chiculture.net

SAYA DIMINTA memberi paparan kepada pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma atau kelenteng, di mana ajaran Buddha, Tao, dan Konfusius menjadi pilar utama filosofi dan ritual.

Usai hiburan, perkenalan pengurus dan pidato sambutan, saya diundang maju, sementara makan siang dihidangkan. Saya agak waswas memberi paparan bersamaan dengan acara makan, karena biasanya tidak ada yang menaruh perhatian.

Untungnya kekhawatiran saya tidak beralasan.

Saya memulai paparan dengan menceritakan sejarah Pecinan Semarang yang dimulai dengan peristiwa pembantaian etnis Tionghoa di Batavia tahun 1740 oleh kolonial Belanda.

“Itu sebabnya ada yang namanya ‘Kali Angke’ di Jakarta,” ujar saya. “Yang artinya ‘Kali Merah’ karena dipenuhi darah dan mayat orang Tionghoa yang dibuang ke kali.”

Konon korban yang dibunuh mencapai hampir 10.000 orang.

Beberapa orang tampak manggut-manggut. Tampaknya mereka baru pertama kali ini mendengar soal peristiwa Batavia 1740.

Kolonial Belanda langsung mengantisipasi agar peristiwa di Batavia tidak menyulut ke daerah lain. Orang Tionghoa di Semarang lalu dipindahkan dari pemukimannya di wilayah Gedung Batu ke wilayah Pecinan supaya lebih mudah diawasi, karena wilayah Pecinan dikelilingi sungai.

Dan Pecinan Semarang terbentuk.

Saya menunjukkan pelbagai foto yang menunjukkan kehidupan multikultural yang tumbuh di Pecinan Semarang sekarang, mulai dari Pasar Gang Baru, Waroeng Semawis, Arak-Arakan Sampo, hingga Pasar Imlek Semawis. Tanpa campur tangan pemerintah, etnis Tionghoa mampu beradaptasi secara alami. Kehidupan berdampingan beda etnis dan agama berjalan dengan baik.

Lalu saya menunjukkan bagaimana sebuah ritual keagamaan punya kesempatan bertransformasi dan dimaknai ulang sesuai kemajuan dan perubahan zaman.

“Arak-arakan Sampo, misalnya,” ujar saya. “Sudah beberapa kali ini untungnya dijatuhkan pas hari Minggu. Ini baik sekali,” tegas saya.

Lalu saya menjelaskan bagaimana dengan kepadatan lalu lintas di hari kerja, tidak memungkinkan lagi mengadakan arak-arakan yang memacetkan jalanan.

“Malah dipisuhi banyak orang yang mau berangkat kerja maupun sekolah,” imbuh saya.

“Tapi jika ulang tahun Kongco pas hari kerja, rayakan dengan sembahyang di kelenteng sesuai harinya…”

Saya menelan ludah sebelum melanjutkan, “Tapi jutbio atau arak-arakan dilakukan di hari Minggu. Selain tidak dimarahi orang, yang ikut pasti lebih banyak…”

Inilah yang saya maksudkan dengan pemaknaan ulang. Kongco pasti juga lebih senang jika yang ikut arak-arakan lebih banyak dan arak-arakan tidak mengganggu kegiatan orang lain.

“Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu,” sabda Nabi Konghucu.

“Mengapa Arak-Arakan Sampo tidak dijadikan festival kebudayaan atau perayaan keberagaman seperti yang pernah dilakukan sebelumnya?” tantang saya.

Ritual arak-arakan juga bisa dikoreograf, ditata ulang menjadi sebuah festival ‘cosplay‘. Peserta arak-arakan diimbau memakai kostum ala apa pun. Kostum daerah boleh, fantasi boleh, manga boleh, Avengers boleh. Yang mau menjadi Bhekun (pengawal kuda –Red.) tetap dandan sesuai ritual.

Saya yakin suatu ketika ‘Arak-arakan Sampo’ bisa menjelma menjadi acara kolosal sekelas Perayaan Capgomeh di Singkawang, bahkan Karnaval Rio de Janeiro yang konon dihadiri 2 juta orang.

Soal Dewa atau Kongco, saya juga menyarankan agar mulai diberi narasi yang lebih bermakna dan kontekstual.

“Minta obat pada Kongco Poo Seng Tay Tee, gak masalah,” ujar saya. “Tapi sebaiknya pejimsim diberitahu, siapa itu Poo Seng Tay Tee.”

Lalu saya menjelaskan, konon Kongco Poo Seng Tay Tee atau Baosheng Dadi (保生大帝) adalah tabib yang baik hati dan sosial. Beliau gemar menolong orang sakit dan sering memberi pengobatan gratis kepada orang tidak mampu.

“Itu sebabnya beliau dihormati dan dijadikan Kongco,” tandas saya.

“Kalau sekarang ada Dokter Lo Siauw Ging di Solo yang sangat sosial dan sering memberi obat gratis, dokter Lie Dharmawan yang membuat rumah sakit kapal dan mengobati pasien miskin hingga ke Papua, dan dokter Michael Leksodimulyo, dokter gelandangan di Surabaya, andai mereka hidup di jaman dulu, mereka semua sudah jadi Kongco!”

Hehehe.

Intinya, tidak hanya ritual yang diajarkan, tapi narasi, sejarah, pengabdian tanpa pamrih terhadap kemanusiaan, juga harus diperkenalkan dan diteladankan.

Di altar utama Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong terletak sebuah sinci dengan ukiran atap 3 susun Masjid Agung Demak bertuliskan nama KH. Abdurrahman Wahid dengan gelar ‘Yin Hua zhi Fu, Fu Ruo Guo Shi‘ (印华之父,扶弱国师), Bapak Tionghoa Indonesia, Guru Bangsa Pendukung Minoritas. Satu-satunya sinci seorang muslim, non-Tionghoa, di antara sinci-sinci para tokoh Tionghoa pendiri perkumpulan.

Pak Harjanto Halim menunjukkan Sinci Gus Dur © cnnindonesia.com

Setiap kali ada Sembahyang King Hoo Ping, para pengurus tak lupa menyajikan makanan kesukaan Gus Dur, tempe mendoan dan kopi tubruk, serta mengganti sajian samseng yang biasanya terdiri dari 3 jenis daging (ikan, ayam, babi) menjadi: ikan, ayam, kambing.

Ciptakan ritual baru!

Peristiwa Mei ’98 terjadi; kekerasan dan perkosaan terjadi. Banyak generasi muda, terutama anak milenial yang tidak tahu atau melupakan peristiwa tragis itu.

Sudah beberapa tahun ini saya dan beberapa kawan komunitas memperingati Peristiwa Mei dengan melakukan refleksi, lalu makan rujak pare dan sambal bunga kecombrang.

Kenapa rujak pare?

Karena kita menelan kepahitan, kegetiran.

Mengapa bunga kecombrang?

Itulah simbol perempuan Tionghoa yang dianiaya dan diperkosa.

Sebagai umat Tri Dharma, kita bisa melakukan kegiatan untuk memperingati dan mendoakan para korban. Bukan menggugat tapi mengakui –itu pernah terjadi. Sebuah kesadaran, bukan pengingkaran.

Ritual bisa kita ciptakan.

Sebuah gerakan melawan lupa, sebuah upaya menggenapkan karma. Akan lebih baik jika disiapkan makanan khas untuk melengkapi, seperti bakcang, ronde, tiong jiu pia, atau rujak pare.

Agama atau ritual jangan terlalu kaku atau baku, harus bisa tumbuh dan berkembang, menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan zaman dan perubahan. Seperti tertulis dalam Kitab Tao Te Ching (道德经): “Yang mati, kering dan kaku; yang lahir, lembut dan fleksibel.”


Catatan Redaksi: Sabda Nabi Konghucu yang dikutip oleh penulis, “Jangan lakukan pada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain lakukan padamu,” terdapat dalam kitab Lunyu (论语) bab 12 ayat 2. Teks aslinya berbunyi, “己所不欲勿施于人” (ji suo bu yu wu shi yu ren).

Wejangan Filsuf Lao Tzu (老子) yang dinukil penulis, “Yang mati, kering dan kaku; yang lahir, lembut dan fleksibel,” termaktub dalam kitab Tao Te Ching (道德经) bab 76. Teks aslinya berbunyi, “人之生也柔弱,其死也坚强” (Ren zhi sheng ye rou ruo, qi si ye jian qiang).

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan