Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

China: Negara Komunis Bernapas Syar’i dan 10 Hal yang Jarang Orang Ketahui

© axios.com

SEBAGAI ORANG yang pernah hidup di China selama kurun waktu tertentu, saya merasa ada banyak hal yang bisa dipelajari dari China –yang secara tradisional masih dianggap sebagai momok dan bahaya laten oleh masyarakat kita.

Karena itu, dalam tulisan santuy kali ini, saya akan coba membahas mengenai 10 hal yang mungkin tidak banyak orang ketahui soal China. Tentu, untuk alumni dan/atau orang-orang yang pernah stay cukup lama di China, 10 hal ini adalah barang biasa belaka.

Oke, langsung saja.

Pertama, China memiliki jumlah muslim dan masjid paling banyak dibanding negara kominis lainnya di seluruh dunia.

Klise, memang, kalau membahas soal satu ini. Namun apa boleh bikin, banyak orang di Indonesia masih melihat China sebagai selembar kertas lecek nan lusuh. Padahal, sudah cukup banyak buku tentang ini yang dirilis di Indonesia –terlebih yang terbaru, yang judulnya ‘Islam di China: Dulu dan Kini’, yang foto kovernya pakai foto hasil jepretan saya itu.

Jumlah muslim di China secara ringkas memang tidak ada patokan resminya. Karena di KTP China tidak ada kolom ‘agama’ macam Indonesia. Hanya ada kolom ‘suku’ (民族 minzu) sana. Para peneliti dari luar China juga masih kesulitan untuk melakukan serangkaian penelitian demografis dengan menggunakan metode analisis regresi terhadap suku-suku yang ada di China beserta persentase kelompok suku tersebut yang memeluk agama Islam atau pun agama-agama lainnya.

Lalu berapa jumlah penganut Islam di China? Kalau dari angka yang ‘dijual’ pemerintah China ke dunia luar, sih, populasi muslim China disebutkan ‘hanya’ berkisar 20 juta atau tidak sampai 30 juta. Tapi, kalau kalkulasi saya berdasar jumlah 10 suku yang mayoritas menganut Islam, kemungkinan sudah di atas 50 juta.

Jumlah masjid di China pun demikian. Kalau saya sendiri yang menulis bahwa China memiliki 20.000 masjid di seantero negaranya, tentu akan menjadi sumber keributan. Namun, paling tidak angka itulah yang ditulis laman China Highlights.

Muslim China sedang melaksanakan salat berjemaah di salah satu masjid di Beijing © Fathan A. Sembiring

Adapun kalau kita bandingkan dengan sumber-sumber online lain seperti negara Federasi Rusia, Angola, Sri Lanka, Vietnam, Bolivia, dan Korea Utara yang juga memiliki model pemerintahan kominis, jumlah muslim dan masjid yang mereka punya sungguh jauh di bawah China.

Misalnya Rusia, hanya memiliki sekitar 8.000 masjid –itu pun mungkin banyak berada di wilayah-wilayah Chechen atau Tatarstan. Sedangkan negara yang tempo hari sempat terjadi keributan soal agama, Angola, memiliki sekitar 60 masjid saja. Sri Lanka dan Vietnam memiliki 10 dan 5 masjid yang terdata. Bolivia cuma punya 2. Dan yang paling bontot tentu Korea Utara yang hanya 1 –itu pun masjid yang ada di dalam kompleks Kedutaan Besar Republik Islam Iran. Kalau di Kedutaan Besar RI di Pyongyang kayaknya terkategori mushola, alias belum bisa dibilang masjid.

Kedua, tidak ada pornografi atau pornoaksi.

Percaya atau tidak, jauh sebelum Babeh gue (iya, Tifatul Sembiring!) melarang situs-situs bokep, China sejak awal masuknya internet sudah langsung memblokir hal-hal yang bersifat astagfirullah di jagat maya itu. Gimana membuktikannya? Ya coba dibuka lah, Bambang! Pasti langsung 404.

Segala bentuk pornografi dan pornoaksi dilarang di China, whatsoever.

Berbeda waktu saya coba ke Tokyo, di 7-Eleven-nya saja dengan mudah ditemui majalah-majalah dewasa yang, astagfirullah, tanpa sensor apa-apa. Ya jangan heran kalau di Netflix ada film The Naked Director yang juga menceritakan soal dunia asyik masyuk tersebut di Jepang.

Di China, jangan harap ada begituan. Termasuk hal-hal seperti reality show atau game yang berbau pornoaksi dan sebagainya, hora ono! Namun, memang tidak ada penyensoran atlet renang maupun olahragawati lain, sih, di TV-TV China. Apalagi penyensoran Sandy si Tupai SpongeBob atau orang merah susu sapi.

China tidak melihat pornografi dan pornoaksi sebagai sesuatu yang bisa dijadikan industri. Masyarakat mereka yang dominan konservatif, memandang porno ya porno. Kalau bicara industri, mending bikin barang KW saja, lebih cuan.

Intinya, selama 5 tahun di China, ini adalah salah satu hal yang bisa saya acungin jempol. Dari sini boleh dikata, China adalah negara kominis yang dibenci, tapi bernapas syar’i and it’s real, Akhi…

Ketiga, tidak ada obvious crime dan judi di jalan-jalan.

Begal perhiasan, begal sepeda, begal otopet, begal payudara, begal bokong … begal apa yang tidak ada pemberitaannya di negara kita tercinta ini?

Perilaku-perilaku tersebut tentu disebabkan oleh banyak hal. Karena iseng, karena libido, karena fantasi, atau karena sedang bikin konten saja. Namun, tentu didasari pula oleh lemahnya hukum, atau paling tidak hukum yang makin lama makin dirasa tidak berkeadilan –sehingga kejahatan-kejahatan yang bersifat obvious crime (uopooooo kui obvious crime, istilah mengada-ngada!), kerap terjadi meski di siang hari.

Deterence effect dari hukum positif yang fakta pelanggarannya bisa kita temukan setiap saat di lingkungan kita dirasa sangat kurang –sehingga jangankan takut dengan ancaman-ancaman pasal, malah yang ada para pelaku tindak kejahatan memikirkan inovasi Maling 2.0 untuk mengakali sistem!

Di China sendiri, jangankan nyolong, bahkan kalau kita sedang berada di bar atau di tempat-tempat yang menuntut kita untuk sedikit miring, lalu tidak sengaja memukul orang atau kawan kita, maka perlakuan seperti itu sudah bisa dikenakan hukum penjara 1 malam. Apalagi sampai mencuri, membegal, merampok, sudah jarang sekali itu.

Tapi, bukan berarti tidak ada sama sekali, lho, ya. Karena itu, banyak perusahaan digital startup di China mengembangkan Artificial intelligence (AI) untuk mencegah terjadinya kejahatan. Misalnya kamera pada dashboard mobil, atau action cam yang bisa dibawa ketika naik motor, atau perangkat CCTV yang sudah bisa terkoneksi cepat dengan HP kita. Hal-hal tersebut justru membawa peluang bagi inovasi-inovasi dalam negeri mereka sendiri.

Bagaimana dengan white collar crime? Hehehe, tentu itu bahasan untuk tulisan lain.

Sebagai negara kominis bernapas syar’i, perjudian semacam sabung ayam, remi, capsa, atau modus-modus lainnya, juga sudah barang tentu dilarang keras di China. Bahkan di banyak kota, sekadar main Mahjong saja sudah mulai dilarang, karena kemungkinan besar mengandung unsur perjudian. Hal ini termasuk judi daring yang saban kita buka web penyedia film bajakan, bisa dengan mudah kita temui di sini.

Solusinya? China menyulap Makau menjadi surga judi. Konon pemasukan dari transaksi judi di sana, 3 kali lipat lebih besar dari Las Vegas.

Boleh berjudi, asal jangan di China daratan (mainland). Mungkin begitu anekdotnya.

Keempat, tidak ada penyalahgunaan narkoba.

Wah, pasti deh kalau saya nulis ini bakal langsung berjilid-jilid tuh yang nyosor soal banyaknya narkoba masuk ke Indonesia dari China. Tapi, bukan peta operasi gembong narkoba internasional itu yang hendak saya bahas. Terkait ini, Anda bisa tanya ke Bagian Nengok-Nengok (BNN) yang punya otoritas dan pengetahuan lebih soal beginian.

Yang mau saya angkat di sini adalah, Anda kalau bawa sabu, meth, opium, atau apapun namanya ke China, pasti akan isdet. Cek saja Wikipedia, kedapatan bawa lebih dari 50 gram narkoba di China, hukumannya cuma satu: mati. (Bukan, ini bukan lagi bicara hukuman penyelewengan bansos, ya. Sudah pasti wassalam kalau itu, mah.)

Kekuatan China yang konservatif membuat tidak ada ampun bagi penggunaan atau pengedaran narkoba di wilayah hukum mereka. China sudah hatam daya rusaknya ketika Perang Candu yang dimotori kolonial Britania Raya, sehingga kerusakan nasional yang diakibatkan oleh penyalahgunaan NAPZA sudah tidak perlu lagi diceritakan atau dikampanyekan pemerintah mereka kepada masyarakatnya yang juga sadar sejarah itu.

Kelima, anak sekolah tidak boleh bawa HP di sekolahnya.

Fakta ini memang agak membingungkan ketika pertama kali TikTok –yang notabene aplikasi ‘made in China‘– masuk ke Indonesia. Setelah sempat ada drama kena ban Kemenkominfo karena belum terdaftar sebagai PSE, memiliki konten bullying, dan tidak memiliki Ketentuan Komunitas atau batasan-batasan konten, membuat khalayak kita berpikir bahwa TikTok peruntukannya hanya untuk kalangan minor atau anak-anak. Padahal, di China sendiri TikTok ditargetkan untuk pengguna kurun usia 16-24 tahun, tidak lebih muda dari itu. Kenapa? Karena jarang sekali anak-anak usia SD-SMA yang menggunakan HP baik itu di sekolah maupun di rumahnya (kecuali pada masa pandemi ini).

Pembatasan penggunaan HP yang ketat oleh lingkungan keluarga maupun sekolah membuat anak-anak usia sekolah di China fokus kepada belajar materi-materi sekolah yang menumpuk dan bejibun.

Puyengnya, ketika tiba di Indonesia dan di negara-negara lain, pengguna TikTok malah didominasi oleh anak-anak usia 12 tahun dan bahkan lebih muda.

Tentu ini miris sekali. Di saat adopsi teknologi itu bagus, namun pengadopsian kemajuan teknologi yang ada di Indonesia –khususnya oleh anak-anak mudanya– malah sebagai pengguna saja, bukan sebagai kreator atau inovator selanjutnya.

Keenam, anak dirawat oleh kakek-neneknya.

Fenomena yang sangat umum ditemui di China adalah seorang anak dirawat kakek-neneknya, bukan orang tuanya. Dengan kerasnya persaingan ekonomi, kerja, penghidupan, dan tingginya biaya hidup di China, membuat kedua orang tua harus bekerja ekstra. Berbeda dengan di Jepang yang para lajangnya jarang menikah dikarenakan himpitan biaya hidup, masyarakat China beradaptasi dengan meminta para senior mereka untuk menjaga anak-anak yang umumnya masih balita hingga usia sekolah.

Hal ini tidak lain disebabkan juga oleh usia para kakek-nenek di China yang cukup panjang. Di China, usia baru disebut lansia jika sudah sekitar 70 tahun ke atas.

Angka harapan hidup di China pun makin lama makin baik. Menurut World Bank, angka harapan hidup masyarakat China adalah 76,70 tahun. Dengan usia yang cukup panjang ini, memudahkan para orang tua yang sibuk berkarier untuk menitipkan anak mereka kepada kakek-neneknya. Dan, walaupun berada di usia senior, masyarakat China yang sepuh-sepuh itu umumnya memiliki kondisi tubuh yang prima dan masih bisa melakukan banyak hal sendiri.

Sisi positif dari pola pengasuhan seperti ini adalah terjadinya transfer pengetahuan, nilai-nilai sosial, dan norma yang ada di masyarakat mereka secara baik ke generasi berikutnya. Selain orang tua bisa optimal dalam bekerja, mereka juga bisa meningkatkan kapasitas kemampuan finansial yang nantinya juga akan menunjang kehidupan anak-anak mereka di kemudian hari.

Adapun sisi negatif dari pola pengasuhan seperti ini adalah kesulitan para generasi lawas untuk mengikuti perkembangan zaman. Tentu untuk mempelajari lagi teknologi, perubahan dan pergeseran norma-norma di masyarakat, bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Sehingga banyak nilai-nilai yang diajarkan oleh para kakek-nenek tersebut masih bisa dibilang kolot. Perimbangan soal ini biasanya dilakukan oleh orang tua langsung.

Ketujuh, China merupakan peradaban kuno yang masih eksis hingga sekarang dan ini mestinya sudah diketahui banyak orang.

Kita tahu, peradaban China sudah dimulai sejak paling tidak 5.000 tahun yang lalu –kurang lebih berbarengan dengan peradaban Mesir Kuno.

Namun, berbeda dengan China, saat ini peradaban Mesir Kuno sudah tidak ada lagi. Mesir zaman now sudah jauh sekali berbeda dengan Mesir tempo doeloe.

4.000-an tahun yang lalu peradaban China juga bersanding dengan peradaban Babilon Kuno –atau yang juga biasa disebut Mesopotamia Kuno.

Namun, pada zaman modern ini, orang akan merasa aneh kalau bilang “mau ke Mesopotamia”, karena sekarang yang ada adalah Iraq dan Syiria. Sudah mafhum pula bahwa, berbeda dengan China yang adem ayem, dua negara itu tidak henti-hentinya berperang setelah Perang Enam Hari, Perang Teluk, War on Terror, ISIL, serta ratusan konflik lain yang masih dan mungkin akan terus berkecamuk di sana.

Praktis, manusia modern akan melihat daerah yang dulunya merupakan situs penting sejarah manusia tersebut, kini malah dipenuhi oleh aliran darah dan desingan mesiu yang entah kapan usainya.

3.000-an tahun yang lalu peradaban China juga bersanding dengan peradaban Yunani Kuno –di mana saat itu banyak sekali filsuf masyhur yang menjadi rujukan ilmu-ilmu modern saat ini karena kepiawaian pemikiran dan filosofi-filosofinya.

Namun, sekalipun sehebat itu Athena dan Sparta menguasai Yunani Kuno, tetap tidak bisa menjamin kelanggengan legacy-nya ke generasi berikutnya.

Lihat saja saat ini apa yang terjadi dengan negara Yunani? Ketika Krisis Finansial 2007-2008 melanda, Yunani terjerembap ke jurang resesi besar-besaran –sehingga banyak sekali bailout yang harus dilakukan pemerintah mereka dan boroknya menahun sampai membuat para tetangganya kewalahan.

Miris, daerah yang dulunya merupakan Tanah Dewa, kini bahkan manusia saja pun lari dari situ, eksodus ke segala penjuru.

2.000-an tahun yang lalu Romawi Kuno menguasai hampir semua kawasan Eropa modern. Bermula dari wilayah yang saat ini bernama Italia, berkembang ratusan tahun membentang dari Britania Raya hingga Armenia, bahkan sampai sebagian negara-negara Afrika Utara.

Kurang kuat apa peradaban Romawi Kuno pada masa itu? Namun, inti dari peradaban bukanlah kuantitas semata, tetapi kualitas. Tentu saat ini peradaban tersebut sudah tidak lagi ada, sudah menjadi puluhan negara yang terpisah satu sama lainnya.

Sebaliknya, di waktu yang sama, peradaban China masih berlanjut dengan penemuan-penemuan mereka yang spektakuler setelah sebelumnya kertas, sutra, produksi daun teh, kompas, tembikar, bubuk mesiu, dan lain sebagainya.

1.000-an tahun yang lalu ketika banyak sekali kerajaan-kerajaan di dunia ini eksis (sebut saja Mongol, Ottoman, Kerajaan Delhi, Kerajaan-kerajaan Spanyol, Kerajaan-kerajaan Portugis), sampai masuk era kolonialisme hingga era modern saat ini, banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh segenap peradaban yang tertatih-tatih berusaha reinkarnasi ataupun membentuk tubuh baru –termasuk dinasti-dinasti Islam yang dulu sangat ditakuti dan disegani oleh para penantangnya itu.

Namun bagaimana hasilnya dibanding China? Anda tahu jawabannya.

Kedelapan, masih banyak artefak milik China yang kini berada di luar negeri.

Dulu, artefak-artefak itu dijarah dari China ketika masih santernya kolonialisme. Sama seperti yang terjadi pada negara kita, banyak sekali artefak-artefak punya China yang dibawa ke negeri asal penjajah dan sampai saat ini sulit sekali untuk diminta balik.

Perkara artefak ini bukanlah hal remeh. Ini adalah soal harga diri dan martabat bangsa yang perjalanan kesejarahannya sudah sangat tua. Jangankan kehilangan artefak, kehilangan sendal jepit saat Jumatan saja tentu sudah bikin kita dongkol, bukan?

Dalam laporan yang dilansir Global Times pada November 2020 lalu, diprediksi ada sekitar 10 juta artefak China yang berasal dari pelbagai daerah dan dengan pelbagai macam ukuran, masih tersimpan di museum-museum maupun menjadi koleksi pribadi di negara-negara kolonialis seperti Inggris, Amerika Serikat, Perancis, dan negara lain yang pernah menjajah China.

Dulu waktu ke Tokyo, saya sempat mampir ke Tokyo Museum. Mungkin karena saya alumni China, agak sedih saya ketika melihat banyak item di museum itu merupakan barang dari China –yang tentu sudah banyak berpindahtangan secara paksa tatkala penjajahan Jepang berlangsung. Tapi uniknya, di museum tersebut banyak dituliskan bahwa barang-barang yang dipamerkan itu adalah donasi individu. (Ya iyalah, mana mau ngaku dari mana itu barang-barang dia dapatkan.)

Namun, di situlah poinnya. Saat kita melihat lini masa sejarah, jangan langsung melihat ideologi pemerintahnya. China dalam hal ini memiliki nasib yang cukup sama dengan Indonesia: dijajah, diperkosa, dieksploitasi SDA-nya, dijarah artefaknya, dibikin bodoh, dan seterusnya. Coba itu direnungkan sejenak.

Kesembilan, media China Central Television (CCTV) punya 5 channel bahasa asing.

CCTV di sini adalah grup stasiun TV milik pemerintah China, bukan kamera pengintai yang dipasang di rumah-rumah itu. Kalau kita ke hotel, biasanya selain CNN, BBC, dan DW, juga ada CGTN (China Global Television Network) yang merupakan versi internesyenel dari CCTV. Tapi ini tentu masih biasa saja.

Yang luar biasa menurut saya adalah ketersediaan siaran CGTN dalam 5 bahasa asing: Inggris, Spanyol, Arab, Rusia, dan Perancis. Luar biasa karena mengingat sekalipun di Indonesia banyak sekali kanal media, namun paling mentok pemberitaannya dilakukan dengan bahasa Inggris saja. Itu pun kebanyakan adalah media tulis, baik online maupun cetak.

Tentu ini menjadi suatu yang sangat signifikan saat negara sebesar China perlu memberitakan keluar apa yang sebenarnya terjadi di negaranya dengan bahasa yang masyarakat global pahami.

Jadi, tidak heran kalau secara pemberitaan, perimbangan opini mengenai China tetap ada di negara-negara yang bertutur dengan 5 bahasa tadi. Misalnya, bilamana kanal seperti CNN atau BBC menyodorkan pemberitaan-pemberitaan keliru tentang China, audiens bisa mendapatkan rujukan lain dari pemberitaan CGTN dengan bahasa yang mereka sudah mengerti.

Sayangnya, karena bias ideologis, pemberitaan dari media-media China acap dicap tidak bisa dipercaya, sedangkan yang dari negara-negara Barat seakan merupakan kebenaran hakiki yang harus diimani tanpa kompromi.

Kesepuluh, no hoax no debat di media.

Menjamurnya hoaks seperti yang kita saksikan di negara sendiri maupun di beberapa negara penganut ideologi pers bebas, telah membawa kemudaratan yang luar biasa. Fitnah, gosip, hujatan, sampai persekusi fisik dan bahkan perbuatan kriminal lain dilakukan hanya karena informasi yang tidak sahih. Ya, informasi yang datangnya dari penguasa saja tentu bukanlah informasi yang 100% bisa dipercaya (tapi saya tidak sedang membahas itu dalam tulisan ini).

Di China, ada istilah yang dikenal dengan sebutan ‘The Great Firewall of China‘, yang berarti websitewebsite dari luar sangat dibatasi dan disensor sangat ketat. Tujuan utamanya tentu stabilitas dalam negeri dan kekuasaan. Selain juga untuk membatasi disinformasi, hoax, dan sebangsanya yang berpotensi menjadi bahan debat kusir netizen budiman.

Seperti yang dipetuahkan Deng Xiaoping, “Bu zhenglun, shi weile zhengqu shijian gan. Yi zhenglun jiu fuza le, shenme ye gan bucheng” (不争论,是为了争取时间干。一争论就复杂了,什么也干不成).

“Tak usah berdebat, ini demi mengejar waktu supaya kita bisa bekerja. Sebab sekali berdebat malah bikin rumit segalanya, bakal tak ada yang kita kerjakan sama sekali akhirnya.”

* * *

Bah, nulis begini saya kok merasa kayak jadi Jubir Kedubes RRC, ya?

Baiklah, kepada Anda staf Kedubes RRC yang membaca ini, invoice saya sudah numpuk untuk Anda. Jangan kasih Aseng.id, kasih saya saja. Hahaha…

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    AL

    5 Maret 2021 at 11:42 pm

    Terima kasih atas sharing pengalaman dan pengetahuannya.
    Kita Indonesia perlu lebih banyak orang2(terutama yg muda2) yg terbuka pemikirannya sehingga bisa berkontribusi bagi pembangunan bangsa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

China membangun “kamp konsentrasi” setelah sebelumnya gagal menanggulangi radikalisme dengan dua cara lainnya: militerisme dan kesejahteraan

Ramadan

Turki sepertinya baru akan sungguh-sungguh membela Uighur jika, dan hanya jika, dirasa menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya

Ramadan

Tidak semua Uighur menganut Islam dan Islam bukan agama asli Uighur. Sama dengan China, Uighur juga pendatang di Xinjiang

Ramadan

Xinjiang, khususnya bagian selatan, pernah membaiat kepada Turki Ustmani dan menjadi bagian kekhalifahan sekitar 4 tahun lamanya