Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Pelajaran dari Konfusius

Di alam demokrasi yang masih mentah di tanah air, di mana pertikaian dan perselisihan horizontal antarkelompok, antaretnis dan agama masih sering terjadi, ajaran-ajaran Konfusius menjadi sangat relevan untuk diperkenalkan

© thepaper.cn

SAYA MENDAPAT undangan talkshow tentang ajaran Kongzi (孔子) alias Konfusius atau Konghucu dari sebuah kelenteng. Saya langsung tertarik untuk hadir. Eh, sedang pegang undangan, pesan singkat masuk dari pengurus kelenteng. Intinya meminta saya jadi moderator. Wah beneran, pucuk dicinta ulam tiba. Saya langsung mengiyakan.

Saat talkshow pun tiba. Saya mendengarkan presentasi dari seorang anak muda yang masih berusia 32 tahun. Luar biasa pengetahuannya mengenai ajaran Kongzi atau dikenal pula sebagai ajaran ‘Ru Jia‘ (儒家). Sungguh mengagumkan. Banyak hal-hal baru yang tidak pernah saya dengar atau ketahui sebelumnya. Epistemologi Ru Jia dapat dirunut dari karakter ‘Ru‘ (儒), yang awalnya berarti pelaku ritual. ‘Ru‘ berevolusi menjadi sebuah tuntunan etika, falsafah negara, dan sistem religi. Kongzi dengan rendah hati senantiasa mengatakan, “Aku hanya menggali dan mengumpulkan apa yang pernah ada sebelumnya…”

Menurut si Pembicara, Revolusi Perancis yang kemudian menjadi gerakan Renaissance di Eropa, dimotori oleh pendeta-pendeta Jesuit yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Ru Jia. “Vox populi vox dei” (suara rakyat adalah suara Tuhan), adalah pengejawantahan prinsip ‘Tian Ming‘ (天命) atau ‘Mandat Langit’ dalam ajaran Ru Jia. Secara prinsip, seorang Raja harus berlaku adil agar mendapat ‘Mandat’ dari ‘Langit’. Apabila Raja berlaku tidak adil, ‘Mandat’ akan dicabut dan diberikan kepada siapapun yang layak –tidak terbatas kepada kalangan istana, melainkan juga kepada rakyat jelata. Sebuah konsep demokrasi nan egaliter. Revolusi diamini.

Dulu anak-anak di Tiongkok diajari etika dan moral melalui hafalan dan nyanyian yang harus diulang-ulang, semenjak mereka berusia dini. Kadang harus dibarengi menulis kaligrafi hingga 10.000 kali. Ada Sanzi Jing 三字经 (Kitab Tiga Aksara), ada Dizi Gui 弟子规 (Pedoman Hidup Budi Pekerti), ada Qianzi Wen 千字文 (Kitab Seribu Huruf).

Sanzi Jing memberikan pondasi karakter, berisi kisah pendidikan moral, bakti anak kepada orang tua dan keluarga. Ada kisah Huang Xiang (黄香), seorang bocah piatu yang meniduri kasur orang tuanya saat musim dingin, supaya kasur menjadi hangat. Atau kisah Kong Rong (孔融), yang mendapat buah pir besar dari orang tuanya, lalu memberikan buah itu kepada kakaknya.

“Aku masih kecil, cukup pir yang kecil saja…”

Dizi Gui mengajarkan moral dan budi pekerti dalam bentuk pantun dan syair.

“Apabila harta dipandang ringan, perselisihan tak ‘kan muncul. Perkataan penuh tenggang rasa, amarahpun akan lenyap” (财物轻怨何生;言语忍忿自泯 cai wu qing yuan he sheng; yan yu ren pen zi min).

“Menundukkan orang lain dengan mengandalkan kekuatan, ia tidak akan rela. Tapi dengan kebajikan dan kebijakan, ia akan menerima” (势服人心不然;理服人方无言 shi fu ren xin bu ran; li fu ren fang wu yan).

Saya menyimak dan menulis penuh perhatian. Ada banyak hal yang masih belum saya pahami. Mendadak saya ‘menjelma’ menjadi seorang murid SD yang ternganga.

Namun satu hal yang pasti: Kongzi seorang pemikir yang luar biasa. Seorang moralis yang pragmatis. Ajarannya laksana oase, sebuah tuntunan moral dan etika yang mencerahkan di tengah carut-marut budaya korup. Dan di alam demokrasi yang masih mentah di tanah air, di mana pertikaian dan perselisihan horizontal antarkelompok, antaretnis dan agama masih sering terjadi, Ru Jia menjadi sangat relevan untuk diperkenalkan.

Singapura, Jepang, dan Korea telah membuktikan bagaimana membangun bangsa dan negara dari keterpurukan. Mereka menyadari, ada hal lain yang lebih mendasar –selain ekonomi– yang harus dibangun. Ajaran Ru Jia menjadi jati diri dan landasan moral. Kini Tiongkok pun mulai berkibar dan Ru Jia juga dijadikan landasan utama.

Tidak ada salahnya kita belajar.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

DUA DASAWARSA pertama abad ke-21 adalah masa suram buat demokrasi. Ambil contoh di negeri-negeri yang mengklaim sudah memasuki era di mana kedaulatan rakyat menjadi...

Esai

Bagi saya, spiritualitas tertinggi adalah kemanusiaan, bukan ketuhanan. Jika kita berhasil merawat kemanusiaan, kita pasti akan mencapai ketuhanan

Esai

Sebuah perayaan terhadap kematian adalah perayaan terhadap kehidupan itu sendiri