Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Dari NU Cabang Nasrani hingga NU Cabang Tionghoa

Karena kagum dan berterima kasih pada Gus Dur, banyak orang Tionghoa, terutama di Lasem, yang mengaku sebagai ‘NU cabang Tionghoa’

© wilwatekta.id

BELUM LAMA ini, media sosial diramaikan oleh perdebatan terkait ‘NU cabang Nasrani’. Kehebohan ini bermula ketika Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa dirinya seorang Nahdliyyin ketika berkunjung ke kantor PBNU pada 28 Januari lalu. Kapolri Sigit menyerukan seharusnya para polisi bersilaturahmi ke para kiai dan pengurus NU.

“Terhadap rekan-rekan NU yang ada di wilayah, bahkan sampai level cabang, kalau ada polisi, kapolsek, kapolres, kapolda yang tidak mau bertemu dengan NU, berarti tidak menghormati saya sebagai Nahdliyyin.” Demikian pernyataan Kapolri Sigit di hadapan para pengurus PBNU.

Menanggapi itu, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj berseloroh kepada Kapolri Sigit. “Bagi saya,” kata Kiai Said di hadapan awak media, “Pak Sigit ini sudah tidak asing lagi, bahkan bisa dikatakan warga NU cabang Nasrani.”

Ungkapan yang awalnya merupakan humor ini, kemudian di-upload di beragam kanal Youtube, viral di media sosial, serta menjadi perdebatan netizen.

Perdebatan terkait ‘NU cabang Nasrani’ ini merupakan bukti bahwa netizen membutuhkan ‘humor yang serius’. Iya, humor yang serius: tawa-canda yang diolah dengan gagasan mendalam.

Humor Kiai Said terkait ‘NU cabang Nasrani’ merupakan tawa-canda yang biasa di kalangan Nahdliyyin. Tidak ada yang tersinggung, tidak ada yang marah, karena para kiai dan santri sudah terbiasa dengan gojlokan-gojekan serius. Toh, mereka memahami konteks guyonan dan batasan-batasan.

Jikalau kemudian istilah ‘NU cabang Nasrani’ menjadi ramai diperdebatkan, itu karena memang jagat netizen kita membutuhkan guyonan yang lebih rutin. Sama halnya ketika orang-orang Tionghoa menyebut dirinya sebagai ‘NU cabang Tionghoa’ karena hormat pada Gus Dur. Orang-orang Tionghoa merasa berutang budi pada Gus Dur, karena jasa besarnya dalam mencabut kebijakan diskriminatif yang selama beberapa dekade membelenggu mereka.

Saya punya pengalaman sendiri dengan ‘NU cabang Tionghoa’ itu.

Beberapa tahun lalu, ketika melakukan penelitian tentang komunitas Tionghoa di Lasem, Jawa Tengah, saya berkunjung ke rumah Pak Gandor. Ia merupakan pengurus Kelenteng Tjoe An Kiong di Dasun, Lasem, yang sehari-hari membagi waktu antara berbisnis dan beraktifitas sosial. Bagi Pak Gandor, kehidupan harus seimbang antara bisnis dan kerja sosial. Jika bisnis semata, maka hidup akan terasa kering. Jika hanya bergulat dalam kerja sosial, maka energi tidak bertahan lama.

Saya mengenal Pak Gandor dan orang-orang Tionghoa Lasem lainnya lewat jalan yang tidak mudah. Beberapa kali saya mencoba mengetuk pintu sekaligus mengutarakan maksud untuk wawancara tapi selalu menemui jalan buntu. Beberapa nama yang menjadi target wawancara tidak bersedia membuka komunikasi, tidak menjawab kontak.

Namun, semua itu berubah ketika saya menemukan celah yang kebetulan, kesempatan yang tidak disengaja. Ketika melakukan kunjungan lapangan, pada pagi hari, saya berniat sarapan dan ngopi di sebuah warung kopi. Ada beragam jajanan untuk mengganjal perut, juga menu nasi bungkus dengan porsi sederhana.

Malam sebelumnya, saya menginap di Pesantren Kauman, yang terletak di tengah perkampungan orang-orang Tionghoa. Saya menginap di pesantren itu, sekaligus berniat sowan pengasuhnya, yakni Gus Zaim Ahmad, serta ikut pengajian setelah salat Subuh. Selama ini, Gus Zaim juga dikenal dekat dengan orang-orang Tionghoa Lasem, sesuatu yang juga dilakukan kakek beliau, Kiai Ma’shum.

Ketika sarapan di warung kopi yang tidak jauh dari pesantren itu, saya bertemu dengan beberapa orang Tionghoa Lasem yang juga sarapan, ngopi bareng. Saya kemudian mengajak berbincang, memperkenalkan diri, sekaligus menyampaikan keinginan wawancara. Melihat saya berpakaian sarung dan peci, beberapa orang Tionghoa bertanya, “Santri, ya? Santrinya Gus Zaim?”

Saya menjawab, benar saya santri, tapi saya tidak mondok di Gus Zaim, hanya sowan dan silaturahim. Seorang Tionghoa menimpali sambil melempar senyum, “Wah, saya santrinya Gus Zaim, sering sowan dan ikutan ngaji.”

Dari ngopi pagi itu, saya mendapat informasi bahwa banyak orang Tionghoa di Lasem yang juga dekat dengan kiai dan sering membantu acara-acara pengajian. Demikian juga sebaliknya, ketika kelenteng punya agenda, masyarakat muslim sekitar juga diundang untuk berpartisipasi.

Di warung kopi itulah saya bertemu dengan Pak Gandor, yang kemudian membuka pintu wawancara ke hampir semua tokoh Tionghoa Lasem.

Ketika wawancara, sebagian besar Tionghoa Lasem menyebut Gus Dur sebagai panutan. Mereka mengingat jasa besar Gus Dur ketika menerbitkan kebijakan yang mencabut diskriminasi bagi orang-orang Tionghoa. Kita tahu, Gus Dur mencabut Inpres No. 06 tahun 1967 dengan menerbitkan Inpres No. 06 tahun 2000. Sejak itu, orang-orang Tionghoa bebas mengekspresikan agama, kepercayaan, dan ritual budayanya. Selanjutnya, pada 9 April 2001, melalui Keppres No. 09/2001, Gus Dur meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif. 

Jasa besar Gus Dur itu berdampak bagi orang-orang Tionghoa secara luas. “Saya sangat hormat pada Gus Dur. Berkat Gus Dur, orang-orang Tionghoa bisa beribadah secara nyaman. Kami ini NU cabang Tionghoa,” ujar Pak Gandor sambil berkelakar. Bisa jadi ini kelakar yang benar, humor yang disertai ketulusan.

Lain lagi dengan Njo Tjoen Hian. Bagi pecinta Batik, Njo Tjoen Hian –atau biasa dikenal Sigit Wicaksono– merupakan sosok legendaris. Ia merupakan pelestari batik Lasem yang dikenal gigih menjaga tradisi membatik dengan merek Sekar Kencana. Pak Sigit sosok Tionghoa Lasem yang dekat dengan kiai.

Ketika saya silaturahmi ke rumah beliau di kawasan Babagan Lasem, Pak Sigit mengaku sangat menghormati Gus Dur. Bahkan, di ruang tamunya, ada foto Gus Dur yang dipasang bersebelahan dengan foto keluarga beliau. Lagi-lagi, hampir sama dengan kebanyakan orang Tionghoa yang saya temui, Pak Sigit juga merasa berhutang budi kepada Gus Dur. Ia bahkan menciptakan batik khusus untuk mengenang Gus Dur.

Kenapa? Karena ia merasakan hidup dalam tiga zaman. Dari masa Orde Lama, Orde Baru, hingga masa Reformasi. Pak Sigit memang tidak lagi berusia muda. Ia sudah lebih dari kepala delapan. Namun ingatannya masih tajam. Ia sering bercerita panjang lebar mengenang masa remajanya, mengenang ketika ia bermain bersama teman-temannya orang pribumi di sekitaran Lasem dan Rembang.

Njo Tjoen Hian kawan dekat Kiai Cholil Bisri. “Saya pernah bermain bola bersama Kiai Cholil, ketika masih muda,” kenangnya sembari menerawang jauh. Ia mengingat kisah-kisah persahabatannya dengan para santri. Njo Tjoen Hian juga sering berkunjung ke pesantren Kauman, di ndalem Gus Im, Lasem. Tampaknya, relasi hangat antara orang-orang Tionghoa dengan santri di Lasem merupakan sesuatu yang biasa, hal yang lumrah terjadi.

Maka, dari relasi inilah kita seperti melihat cermin, betapa sangat luwes hubungan komunikasi dan sosial antara para santri dengan orang-orang Tionghoa.

Dari situ kita juga bisa belajar, istilah ‘NU cabang Nasrani’, ‘NU cabang Tionghoa’, atau NU cabang apalah nanti, sebenarnya tak lain merupakan media dialog untuk mengekalkan persaudaraan. Dalam tradisi pesantren, dikenal ‘ukhuwwah Islamiyyah‘ (persaudaraan sesama pemeluk Islam), ‘ukhuwwah basyariyyah‘ (persaudaraan kemanusiaan), dan ‘ukhuwwah wathaniyyah‘ (persaudaraan kebangsaan).

Kita perlu memandang ‘NU cabang Nasrani’ dan ‘NU cabang Tionghoa’ ini dalam konteks persaudaraan kemanusiaan dan persaudaraan kebangsaan. Persaudaraan macam ini sering kali terlupa, hanya karena beda aspirasi semata.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan

Kongkow

Kacang dan jerami kacang berasal dari pohon yang sama, mengapa harus saling mencederai?