Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Imlek, China, dan Islamisasi Nusantara

Bila sudi menoleh ke belakang, patut diakui adanya kontribusi orang-orang China dalam persebaran Islam di Indonesia

© bbc.com

BARANGKALI sebuah kebetulan belaka, tahun baru Imlek 2021 jatuh pada Jumat yang dimuliakan sebagai “sayyidul ayyaam” (rajanya hari) bagi umat Islam.

Atau, jangan-jangan itu adalah peneguhan bahwa China benaran bisa seiring/sejalan dengan Islam; bahwa China tidaklah berada dalam hubungan diametral dengan agama yang ditabligkan Nabi Muhammad ini.

Pasalnya, ulama-ulama China, baik salaf saleh maupun kontemporer, banyak yang mengakui adanya titik-titik temu antara ajaran China dengan syariat Islam.

Tengok saja, untuk menyebut di antaranya, mahakarya-mahakarya Liu Zhi (刘智), ulama besar asal Nanjing era dinasti Qing. Tianfang Dianli 天方典礼 (Hukum dan Ritual Islam), misalnya. Dalam mukadimah kitabnya yang berjumlah 20 jilid ini, Liu Zhi blak-blakan menyatakan,

“Kendati [syariat Islam] termaktub di kitab Arab, akan tetapi ia tidak berbeda dengan [ajaran-ajaran] kitab Konfusianisme. Sekalipun [muslim] mempraktikkan peribadahan Arab, tapi bagaikan menjalankan ritus agama orang-orang suci dan raja-raja [Cina] terdahulu” (sui zai zai Tianfang zhi shu, er bu yi hu Ru zhe zhi dian, zun xi Tianfang zhi li, ji you zun xi xian sheng xian wang zhi jiao ye 虽载在天方之书而不异乎儒者之典遵习天方之礼即犹遵习先圣先王之教也).

Walakin, beberapa tahun belakangan kita menyaksikan adanya kelompok-kelompok tertentu di Indonesia yang coba terus-menerus membentur-benturkan Islam dengan China, baik China sebagai bangsa maupun China sebagai negara.

Padahal, bila sudi menoleh ke belakang, adanya kontribusi orang-orang China dalam persebaran Islam di negeri kita yang kini bernama Indonesia ini, tidak patut tidak kita akui.

* * *

Syahdan, tatkala mayoritas masyarakat kita masih menjadi penganut animisme penyembah pohon, batu, arwah, dan semacamnya, pendatang dari China yang mayoritas bermastautin di pesisir pantai timur pulau Jawa justru sudah banyak yang menjadi pemeluk Islam dan rajin berpuasa. Konon, para ikhwan muslim asal China ini umumnya bersih-bersih, sedangkan penduduk lokal yang masih dalam kondisi ‘kafir’ itu dekil-dekil.

Informasi begitu termaktub dalam catatan perjalanan masyhur yang menjadi rujukan otoritatif sejarawan dunia berjudul Yingya Shenglan (瀛涯胜览). Penyusunnya bernama Ma Huan (马欢), seorang muslim berkebangsaan China yang fasih bahasa Arab dan Persia. Berkat kecakapan berbahasanya itu, ratusan tahun silam, dia diminta mengawani Cheng Ho untuk menjadi penerjemahnya selama melakukan ekspedisi mengarungi samudera mancanegara.

Bahkan, jauh sebelum Cheng Ho tiba di Nusantara pada awal abad ke-15, orang-orang China yang kemungkinan juga tidak sedikit yang menganut Islam, sudah terbiasa lalu-lalang di negeri kita yang oleh mereka lumrah disebut “Sanfoqi” (三佛齐) alias Sriwijaya.

Orang-orang China yang tujuan utamanya berdagang ke Arab itu, seperti dicatat Zhu Yu (朱彧) dalam jilid 2 Pingzhou Ketan 萍洲可谈 (Cerita dari Pingzhou), menjadikan negeri kita sebagai tempat berkumpul, memperbaiki kapal, atau bongkar muat barang dagangan (Huaren yi Dashi, zhi Sanfoqi xiu chuan, zhuan yi huo wu, yuan jia fu cou 华人诣大食至三佛齐修船转移货物远贾辐辏). Dan, di antara mereka, ada yang kemudian menetap di Nusantara, khususnya Jawa dan Sumatra.

Itulah mengapa ketika rombongan Cheng Ho tiba di Jawa pada 1406, mereka mendapati muslim asal China menjadi komposisi utama penduduk Jawa saat itu. Ma Huan dalam catatan perjalanan di muka mendokumentasikan, penduduk Jawa kala itu terdiri dari tiga bangsa: (1) Saudagar muslim dari Barat (Arab, India, Gujarat, Malabar, Bengali, dll.); (2) migran China muslim dari Kanton dan Hokkien; (3) penduduk lokal yang mayoritas animistik.

* * *

Beralih ke Sumatra, seorang China bernama Shi Jinqing (施进卿) datang menghadap Cheng Ho. Dia melaporkan “kebengisan” Chen Zuyi (陈祖义), rival bisnis sebangsa dengannya yang ditudingnya gemar menyamun kapal-kapal dagang yang melintas di perairan Palembang.

Cheng Ho naik pitam. Ditangkaplah Chen Zuyi, kapal-kapalnya dibakar, dan ribuan pengikutnya dihabisi.

Lalu, untuk mengisi kevakuman kekuasaan (power vacuum) selepas disikatnya Chen Zuyi cum suis, Cheng Ho lantas mengangkat Shi Jinqing sebagai pemimpin besar (da toumu 大头目) orang-orang China di Palembang. Apa yang oleh Mangaradja Onggang Parlindungan sebut sebagai “Muslim/Hanafi Chinese community” (komunitas muslim China Hanafi) dalam buku kontroversialnnya, Tuanku Rao, kemungkinan adalah kelompok sosial inilah.

* * *

Seiring berjalannya waktu, terjadi konflik internal dalam keluarga Shi Jinqing. Putrinya yang bernama Shi Dajie (施大姐) minggat ke Jawa, menjadi syahbandar di Gresik. Ia dikenal dengan nama Jawa Nyai Gede Pinatih. Dialah pengasuh Raden Paku –yang kelak menjadi Sunan Giri– sekaligus penyokong finansial Giri Kedaton.

Di lain pihak, raja terakhir Majapahit, Brawijaya V, tercatat memperistri seorang China muslim bernama Siu Ban Ci. Ia adalah anak Syekh Bentong alias Tan Go Wat yang notabene pedagang-cum-pendakwah beretnik China.

Dari pernikahannya dengan Siu Ban Ci, Brawijaya V dikaruniai putra bernama Jin Bun yang belakangan berguru kepada Sunan Ampel dan mengubah namanya menjadi Raden Patah. Raden Patah yang tak lain merupakan muslim berdarah China ini kemudian mendirikan kerajaan Islam pertama di Jawa: Kesultanan Demak.

Maka dari itu, kiranya tak berlebihan bila B. J. Habibie menyatakan, “Hadiah terbesar bangsa Cina ke Indonesia adalah agama Islam.”

Kalau sudah begitu, mungkin kita harus mulai bersepakat dengan Jenderal Dr. A.H. Nasution yang dalam buku 1 Oktober 1965, Kebangkitan 1966, Koreksi/Pembaruan/Pembangunan menuliskan, “Kita tidak boleh terjerumus dalam rasialisme dan anti-Tionghoa, yang mana akan merugikan revolusi kita dan bertentangan dengan Pancasila dan dengan Agama.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Ramadan

China membangun “kamp konsentrasi” setelah sebelumnya gagal menanggulangi radikalisme dengan dua cara lainnya: militerisme dan kesejahteraan

Ramadan

Turki sepertinya baru akan sungguh-sungguh membela Uighur jika, dan hanya jika, dirasa menguntungkan bagi kepentingan nasionalnya

Ramadan

Tidak semua Uighur menganut Islam dan Islam bukan agama asli Uighur. Sama dengan China, Uighur juga pendatang di Xinjiang

Ramadan

Xinjiang, khususnya bagian selatan, pernah membaiat kepada Turki Ustmani dan menjadi bagian kekhalifahan sekitar 4 tahun lamanya