Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Menjumput Ketionghoaan

Saya seperti pohon bambu yang tumbuh di tanah Indonesia yang memomong dan membesarkan saya dan menjadi tempat di mana akar saya mengakar

© yczihua.com

BEBERAPA tahun lalu, saya menghadiri sebuah konferensi internasional tentang Indonesia-Tionghoa: “International Conference on Chinese Indonesians: Their Lives and Identities“. Konferensi ini diadakan selama dua hari di sebuah hotel dan dimotori oleh 3 universitas swasta besar dari tiga kota besar: Universitas Petra, Surabaya; Universitas Maranatha, Bandung; dan Universitas Katholik Soegijapranata, Semarang.

Saya datang di hari pertama bersama seorang kolega yang akan menjadi pembicara. Beliau seorang penulis, sekaligus pemilik penerbitan bernama Dalang Publishing yang beralamatkan di San Mateo, California, Amerika. Dalang Publishing bergerak dalam bidang penerjemahan karya-karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris untuk kemudian menjual dan menyebarluaskannya ke toko-toko buku, perpustakaan, dan komunitas di Amerika.

Sang pemilik Dalang Publishing adalah orang Indonesia yang bermigrasi ke Amerika lebih dari setengah abad yang lalu. Sementara beliau, waktu perhelatan konferensi pada November 2013 itu, telah berusia 79 tahun.

* * *

Konferensi dibuka dengan sambutan dari wakil masing-masing universitas, disambung dengan pertunjukan tarian oleh seorang penari profesional yang menari memakai topeng dam kostum bernuansa China, diiringi musik China.

Usai satu lagu, sang penari berjongkok membelakangi penonton, melepas topeng dan kostum China-nya, lalu bertransformasi menjadi penari bertopeng, berkostum dan bermusik Sunda. Ia pun menari dengan gaya jaipong yang rancak dan dinamis.

Usai satu lagu lagi, sang penari kembali berjongkok, bertransformasi menjadi penari bertopeng, berkostum dan bermusik Jawa. Ia pun menari dengan selendang panjang bewarna merah menyala diiringi musik berlanggam Jawa.

Sungguh sebuah sajian yang apik dan luwes, menggambarkan jelas transformasi etnis Tionghoa dari waktu ke waktu.

“Apa judul tariannya?” tanya pembawa acara.

Si penari nyengir manis sekali, sambil membetulkan kembennya yang bolak-balik melorot.

“Ampyang,” sahut si penari yang notabene seorang lelaki keturunan Tionghoa dari marga Kwik.

“Kenapa ‘Ampyang’?”

“Karena Ampyang berisi macam-macam bahan. Gula dari Jawa; kacang, wijen dari China. Dimasak bareng. Rasanya enak sekali,” tukas si penari.

Hmm…, icip-icip ketionghoaan dari sepotong kudapan lokal.

* * *

Pembukaan diakhiri dengan paparan dari pembicara kunci dari Xiamen University, China, dan National University of Singapore. Pembicara kunci dari Xiamen dan Singapore banyak memaparkan dinamika Tionghoa Indonesia semenjak zaman Penjajahan Belanda hingga Kemerdekaan.

Pergumulan etnis Tionghoa di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dinamika yang terjadi di China.

Sebelum China merdeka, yang menjadi sumber pertikaian adalah perang antara Kaum ‘Royalist‘ yang setia kepada pemerintahan dinasti Qing melawan ‘Revolusionist‘ yang dipimpin dr. Sun Yat-sen (孙中山).

Konon Tionghoa Indonesia ikut menyokong perjuangan dr. Sun.

Saat Jepang menyerah, isu pertikaian beralih ke perlawanan Mao Zedong (毛泽东) dari People’s Republic of China melawan Chiang Kai-shek (蒋介石) dari Republic of China. Pertikaian ini berimbas hingga ke Indonesia. Etnis Tionghoa terbelah menjadi dua kubu dalam segala sendi sosial kemasyarkatan: dari surat kabar, perkumpulan, hingga sekolah.

Hmm…

Sebenarnya masih banyak topik konferensi yang menarik –mulai dari sejarah, bisnis, suksesi, tarian, kuburan, kaligrafi, hingga asal-usul soto dan arsitektur kelenteng. Sayang saya tidak bisa terus hadir. Saya harus ke kantor, menyelesaikan beberapa urusan.

* * *

Hari kedua, konferensi masih berjalan menarik. Siangnya, kolega saya menjadi pembicara.

Pada sesi pembukaan, saya mendengar paparan tentang identitas ketionghoaan. Saya tidak begitu memahami teori-teori ilmu sosial soal identitas dan batas identitas, tapi saya merasakan kegalauan dari sebuah etnis yang pernah termarginalkan selama berpuluh-puluh tahun (mungkin lebih) di sebuah tempat yang awalnya asing, namun telah menjadi tanah kelahiran yang dicintai dan dirindu, sebagai minoritas dari sebuah bangsa yang besar. ‘Orang China Bukan China’, atau OCBC, menjadi lontaran yang sinis terdengar.

Walah.

Ketionghoaan menjadi sebuah upaya tiada henti untuk menggali dan mengais potongan-potongan puzzle yang telah tercerai-berai akibat kebijakan politik yang represif dan diskriminatif yang telah memorakporandakan tatanan sosial sebuah komunitas hingga level terendah, yaitu keluarga.

Masing-masing kami, kini harus merangkai, memasang, mematut potongan puzzle yang ditemukan; perlahan, penuh kesabaran, mencoba menjadi bagian dari sebakul nasi di bumi Nusantara.

* * *

Presentasi kolega saya mengenai novel yang ditulisnya sebagai seorang Tionghoa yang dibesarkan dalam keluarga Tionghoa tapi berkiblat ke Belanda, memberikan nuansa dan aroma yang lain lagi. Kebencian dan kemarahannya saat meninggalkan Indonesia puluhan tahun yang lalu, berubah total saat ia membawa novelnya ke Indonesia. Ia baru menyadari, selama ini ia telah salah memahami Indonesia.

Ia telah salah informasi.

Ia telah ‘menzolimi’ tanah kelahirannya.

Kini, di usia yang semakin uzur, kesadaran sebagai seorang yang pernah dilahirkan di rahim Pertiwi Indonesia, mendadak bangkit. Ia seakan terbangun dari sebuah mimpi yang kosong dan dingin di sebuah negara yang sungguh asing.

I have to be honest, I blame the Colonialist now,” ujarnya sendu.

Ruangan hening, semua menyimak.

Kolega saya melanjutkan, “When I went to Salatiga, a city so beautiful, which you can find such in other parts of Indonesia, I saw a bamboo tree. A beautiful bamboo tree…

Kolega saya terhenti, menenangkan emosi yang bergejolak di dalam hati.

I realize, above midriff I am a Chinese, but down here, I am an Indonesian.

Kami semua terdiam.

Chinese-ness is my heart and brain. But Indonesian-ness is my gravity, on which I could stand firm…

Keindonesiaan adalah gravitasi di mana saya berpijak kokoh.

Kolega saya menghela napas panjang, kemudian meneruskan dengan suara agak serak, “I am like a bamboo tree, a Chinese, that stands on Indonesian soil, that nurtures me, fills me… It is where my roots are rooted…

Semilir AC berhembus pelan.

Without Indonesia, I would not be…

* * *

Malamnya, peserta konferensi menuju ke kawasan Pecinan Semarang. Mereka menuju Kelenteng Tay Kak Sie untuk melihat salah satu aset sekaligus artefak ketionghoaan yang masih tersisa dan terpelihara dengan baik.

Setelah itu, rombongan berjalan kaki menuju Gedung Pertemuan Boen Hian Tong, di mana saya dan seluruh pengurus menjadi tuan rumah. Kami beramah tamah, mendengarkan presentasi soal adat dan budaya Pecinan Semarang, lalu tur keliling gedung pertemuan; di mana di lantai dua terdapat patung Dewa Long Kun Ya, satu-satunya Dewa Musik yang ada di kota Semarang. Setelah itu rombongan bersiap-siap menuju Waroeng Semawis untuk makan malam di sebuah pusat kuliner khas Semarangan dengan sistem ‘open air‘.

Para peserta sudah bersiap di depan pintu, tahu-tahu hujan turun rintik-rintik; makin lama makin deras.

Walah. Gimana nih?

Kami memutuskan nekat menerobos hujan. The show must go on!

Dua becak didatangkan untuk membawa peserta yang sudah sepuh, termasuk kolega saya dan seorang akademisi dari Jakarta yang telah berusia 86 tahun. Menembus deras hujan, saya dan beberapa pengurus dan panitia berjalan berbasah-basah, ngrubyuk jalanan yang tergenang air.

Di mulut Gang Warung, kami menunggu becak yang tadi mengambil jalan memutar. Saat becak tiba, kami menurunkan kolega saya dan ibu akademisi dengan hati-hati.

Kami berjalan beriringan. Ada yang menuntun, ada yang memayungi, ada yang membawakan tas.

“Tempatnya di mana?” tanya ibu akademisi dengan suara perlahan.

Kami berhenti di tengah-tengah Waroeng Semawis. Di kanan-kiri trotoar tampak para pedagang yang duduk-duduk berteduh, menanti dagangannya yang sepi pembeli.

Hujan turun semakin lebat.

“Itu di sana,” ujar saya menunjuk ke lokasi pertemuan.

Kaki-kaki kami terus melangkah, meski semakin rapuh didera kala.

Terngiang puisi kaligrafi Mandarin yang ditulis seorang akademisi muda dari Bandung:

“Bunga kecil itu

Menyeruak dari rekahan tembok batu

Di hamparan putih salju beku

Di gelap malam sunyi abadi

Bunga itu setia, mekar menebar wangi.

Kami melanjutkan berjalan tertatih-tatih, menyusuri setapak Pecinan yang makin lengang dan tergenang. Lampu jalanan bersinar suram. Dalam deras hujan ditingkah geram halilintar, kami tertatih-tatih menjumput ketionghoaan yang pernah hilang ditelan badai sejarah nan kelam.

“Masih jauh?” tanya ibu akademisi.

“Itu sudah dekat,” ujar saya lirih sambil menunjuk lampu yang berkedip di tengah deras hujan. “Yang ada lampunya di sana…”

Sebuah jejak berkecipak dalam genang. Riak sesaat, ditimpa deras, lalu tak membekas.

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    Ng Andre

    14 April 2021 at 6:00 am

    Terimakasih untuk sharing tulisannya Pak, kita sbg bambu memang harus ingat akan akar kebangsaan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

PADA 10 April 2021 lalu, saya diminta berbicara mengenai ”hubungan antaretnis” untuk mengisi acara diskusi daring #CasCisCus yang diselenggarakan Center for Chinese Indonesian Studies,...

Esai

”Kepedihan dan kesakitan serta trauma para korban Tragedi Mei adalah kesakitan kita semua.”