Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Kenapa ada masyarakat Indonesia yang menolak vaksin Cina?

Kendati kini kualitas produk Cina sudah jauh berkembang, tapi belum mampu mengubah total persepsi negatif masyarakat Indonesia atas produk Cina, termasuk terhadap vaksin buatannya

© Kakuen Lau/South China Morning Post

SEJAK setahun yang lalu, COVID-19 telah mengubah cara pandang dan hidup manusia. Sebelumnya, tidak ada yang membayangkan jika manusia dapat hidup secara virtual: rapat virtual, belanja virtual, nonton konser virtual, dan lain sebagainya.

Selain mengubah cara hidup, COVID-19 juga mengancam hidup manusia itu sendiri. Bayangkan, hingga saat ini, total kasus COVID-19 sudah mencapai 100 juta kasus dengan 2 juta total kematian.

Untuk memutus rantai penularan dan menghentikan pandemi ini, ada 3 strategi yang digunakan secara global. Yaitu: Pertama, menjaga kebersihan, membatasi mobilitas, dan memakai masker; Kedua, aktif melakukan pelacakan, pengetesan, dan perawatan orang-orang yang menderita COVID-19, dan; Ketiga, vaksinasi.

Terkait vaksinasi, dalam setahun terakhir berbagai negara dan perusahaan farmasi berusaha mengembangkan vaksin COVID-19 secara cepat. Hingga saat ini, paling tidak ada 5 perusahaan farmasi yang telah berhasil mengembangkan vaksin dimaksud: Moderna (AS), Oxford-AstraZeneca (Inggris), Pfizer-BioNTech (AS-Jerman), Sputnik V (Rusia), Sinopharm (Cina), dan Sinovac (Cina). Di luar 6 perusahaan tersebut, juga ada yang masih menjalani uji klinis, seperti Novavax (AS). Secara umum, seluruh vaksin dari 6 perusahaan itu telah lolos uji klinis tahap 3 –yang artinya memiliki kemampuan untuk melawan COVID-19 dan aman untuk digunakan kepada manusia.

Namun, cerita keampuhan dan keamanan vaksin-vaksin tadi berbeda saat tiba di Indonesia. Jika vaksin dari Moderna, AstraZeneca, dan Pfizer diterima dengan tangan terbuka oleh masyarakat Indonesia, tidak demikian dengan Sinovac. Penolakan atas vaksin Sinovac ramai terjadi dan melahirkan keriuhan publik.

Penyebab ketidakpercayaan WNI terhadap vaksin Cina

Mengapa respon masyarakat Indonesia terhadap Sinovac berbeda dibandingkan dengan vaksin-vaksin lainnya? Ada 5 faktor yang kemungkinan besar memengaruhinya dan seluruh faktor ini saling berkait satu sama lain.

Pertama, residu pemilihan umum di Indonesia.

Sejak pemilihan presiden 2014, yang kemudian berlanjut dengan pemilihan kepala daerah Jakarta 2017 dan pemilihan presiden 2019, isu anti-Cina mendominasi panggung kompetisi politik di Indonesia. Isu “antek aseng/asing” sangat jamak didengar sepanjang pemilu. Isu anti-Cina ini dimobilisasi dan dieksploitasi sedemikian rupa dengan menyebarkan beragam hoaks untuk mendiskreditkan salah satu peserta pemilihan umum.

Efeknya adalah sikap anti-Cina yang selama ini sudah tertanam di masyarakat semakin mengeras. Rasa antipati terhadap Cina menguat sehingga apapun yang bisa diasosiasikan dengan Cina dilihat secara negatif dan curiga.

Kedua, banyak kajian sosial di Indonesia yang sudah menjelaskan dengan baik mengenai sikap anti-Cina yang berkembang di masyarakat Indonesia. Di Indonesia, sikap anti-Cina ini berlaku baik terhadap negara Cina maupun etnis Cina. Bahkan, 2 hal yang berbeda ini dilihat sebagai sebuah kesatuan.

Penyebab lahirnya sikap diskriminatif dan rasis ini bisa dilacak paling tidak pada 2 hal. Pertama, kebijakan pemerintah kolonial di Indonesia yang menempatkan strata sosial etnis Cina lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan. Selain itu, pemerintah kolonial juga memanfaatkan orang-orang dari etnis Cina ini untuk memungut keuntungan ekonomi di tanah jajahan (Indonesia). Kedua, kebijakan politik Orde Baru di bawah pimpinan Suharto yang memanfaatkan SARA (suku, agama, ras, dan antar golongan) untuk menjaga stabilitas dan kekuasaan politiknya. Akibatnya, sikap anti-Cina mewabah di Indonesia. Salah satu keluaran dari sikap antipati ini adalah kerusahan Mei 1998 di Jakarta.

Ketiga, sejarah produk Cina di Indonesia.

Di awal tahun 2000-an, Indonesia dibanjiri oleh produk-produk dari Cina, mulai dari barang elektronik hingga otomotif. Salah satu yang saat itu fenomenal adalah produk motor Cina. Pada masa-masa itu, umum ditemukan merek-merek kendaraan seperti Jialing, Sanex, dan Loncin di jalanan Indonesia. Bahkan, saking fenomenalnya, dulu ada istilah “Mocin” untuk menyebut motor-motor keluaran Cina tersebut.

Namun, produk-produk Cina itu datang ke Indonesia tidak dengan kualitas yang baik. Motor-motor produk Cina dikenal cepat rusak. Demikian pula dengan produk-produk lainnya. Situasi ini melahirkan anggapan bahwa produk Cina adalah produk-produk berkualitas rendah.

Sebagai intermezzo, saya sendiri punya pengalaman buruk dengan produk-produk Cina saat itu. Saat itu, saya iseng membeli pemutar MP3 buatan Cina. Harganya sangat murah jika dibandingkan dengan produk sejenis dari, misalnya, Jepang. Tapi, jangan tanyakan soal kualitasnya. Pemutar MP3 yang saya beli mati total setelah 2 bulan.

Karena rasa penasaran dengan kualitas produk Cina, pemutar MP3 tersebut saya bongkar. Voila! Di dalam pemutar MP3 tersebut saya menemukan ganjalan kertas yang menopang mesin MP3. Saat melihat ganjalan kertas tersebut, saya sempat berpikir, “Ini yang saya beli MP3 atau kaki meja, kok ada ganjalan kertasnya?”

Untungnya, saat ini kualitas produk Cina sudah jauh berkembang. Wuling, DSFK, Vivo, Xiaomi, dan Huawei adalah beberapa contoh dari produk Cina yang memiliki kualitas baik. Sayangnya, produk-produk ini belum mampu mengubah secara total persepsi negatif masyarakat Indonesia atas produk Cina. Implikasinya, Sinovac pun dilihat secara negatif. Ini bisa dilihat dari keriuhan publik yang mempertanyakan kualitas dan keamanan Sinovac melawan Covid-19. 

Keempat, masalah transparansi.

Transparansi merupakan masalah umum di negara-negara otoritarian manapun, termasuk Cina. Hal ini juga berlaku dalam pengembangan vaksin COVID-19. Sinovac dianggap tidak terbuka dalam proses pengembangan vaksinnya dan menuai kritik dari masyarakat internasional. Kondisi ini berbeda dengan yang dilakukan perusahaan-perusahaan vaksin lainnya, seperti AstraZeneca, dan Pfizer yang lebih terbuka ke publik dalam menyosialisasikan proses-proses dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Transparansi ini penting karena dengan semakin banyak publik tahu dan dapat mengikuti proses-proses yang berjalan, keyakinan atas kualitas vaksin juga akan meningkat. Apalagi vaksin COVID-19 berusaha dikembangkan dalam tempo yang sangat singkat jika dibandingkan dengan pengembangan vaksin-vaksin lainnya.   

Terakhir, karena masalah kurangnya keterbukaan tadi, akhirnya media massa didominasi oleh pemberitaan keberhasilan perusahaan-perusahaan Barat dalam pengembangan vaksin COVID-19.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, media massa telah diakui sebagai pembentuk opini masyarakat yang efektif. Media massa punya kemampuan membangun kesadaran sosial terkait apapun. Media massa mampu mengarahkan publik untuk menentukan mana yang baik dan buruk, mana yang pantas dan tidak pantas, dan sebagainya. Sehingga, ketika Sinovac tidak muncul di pemberitaan media, sementara pemberitaan atas Moderna, AstraZeneca, dan Pfizer muncul secara masif, maka kesadaran yang muncul di publik adalah produk vaksin yang baik adalah produk-produk dari Moderna, AstraZeneca, dan Pfizer.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai penyebab penolakan publik atas vaksin Sinovac yang menyebabkan eksistensi vaksin Sinovac di Indonesia menjadi rumit.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

BARANGKALI Anda sempat kepikiran untuk pindah negara, atau sesederhana ingin memiliki kehidupan yang lebih pasti ke depannya, pascapandemi ini? China mungkin bisa jadi salah...

Esai

SESUATU yang mengejutkan saya –yang sejak 2019 menjadi mahasiswa baru Tianjin University– adalah banyaknya mahasiswa asal benua Afrika. Tak jarang kami bertemu di dapur...

Esai

SAYA tak menduga acara sederhana yang digagas 4 tahun yang lalu –acara peringatan Tragedi Mei ’98 dengan makan rujak pare sambal kecombrang itu– mendapat...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”