Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Kenapa Agama Konghucu dikenal di Indonesia tapi di China tidak?

Apakah ajaran Konghucu adalah agama? Jawabannya tergantung bagaimana kita masing-masing mendefinisikan apa itu agama

© zh.pngtree.com

DI INDONESIA, Konghucu dianggap sebagai agama yang berasal dari China. Mungkin karena ada etnis Tionghoa yang mengklaim diri sebagai penganut agama Konghucu, meski tidak banyak.

Namun, di China sendiri sebenarnya tidak ada agama Konghucu. Tidak ada pula penganut agama Konghucu. Aneh bin ajaib!

Tapi, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api, bukan?

* * *

Sekitar 120 tahun yang lalu, di China memang pernah ada gerakan politik untuk menjadikan Konghucu sebagai agama, dan bahkan menjadikan agama Konghucu sebagai agama nasional.

Orang yang pertama kali mencetuskan ide untuk menjadikan ajaran Konghucu sebagai agama dan menjadikan agama Konghucu sebagai agama nasional China itu adalah Kang Youwei (康有为). Dia pejabat tinggi dinasti Qing, rezim yang berkuasa di China sejak 1644 hingga 1911.

Latar belakang lahirnya ide ‘menjadikan ajaran Konghucu sebagai agama’ adalah hegemoni negara-negara Barat di China.

Tahun 1858, China kalah dalam Perang Candu II melawan aliansi pasukan Inggris dan Perancis. Pemerintah China terpaksa menandatangani perjanjian memberikan hak kekebalan politik kepada orang-orang Inggris dan Perancis yang ada di China sekaligus mengizinkan misionaris untuk mendirikan gereja dan menyebarluaskan ajaran Kristen kepada rakyat China. Banyak misionaris yang bertindak semena-mena, menghina, dan merampas hak-hak rakyat China.

Pada tahun 1895, China berperang dengan Jepang dan kalah –sehingga harus membayar pampasan perang dan menyerahkan pulau Taiwan serta kepulauan Penghu kepada Jepang.

Segera setelah itu, negara-negara Eropa juga menekan pemerintah China dan mencaplok wilayah-wilayah di daratan China.

Kondisi negeri China yang kian terpuruk menyebabkan banyak rakyat China kehilangan rasa percaya diri dan mengagung-agungkan budaya Barat –termasuk agama Kristen.

Salah satu hegemoni budaya yang dipaksakan oleh misionaris Barat adalah penggunaan penanggalan Masehi, yaitu kalender dengan titik awal kelahiran Yesus Kristus. Padahal, penanggalan yang dipakai di China kala itu adalah penanggalan tradisional China yang menggunakan tahun kaisar naik tahta sebagai patokannya.

Kaum intelektual dan pejabat tinggi China menyimpulkan bahwa China harus segera melakukan reformasi dengan mencontoh Restorasi Meiji di Jepang.

Nah, sebagai bagian dari reformasi nasional, Kang Youwei pada tahun 1897 mengusulkan agar menjadikan ajaran Konghucu sebagai agama dan menjadikan agama Konghucu sebagai agama nasional China. Tujuannya: membangun semangat persatuan nasional dan rasa percaya diri rakyat terhadap budaya China. Kemudian, meniru penanggalan Masehi, dia mengusulkan agar tahun kelahiran Konghucu, yaitu tahun 551 SM, dijadikan sebagai titik awal penanggalan China yang baru. Misalnya, jika kalender Masehi adalah tahun 2021, maka kalender Konghucu adalah tahun 2572 –yang merupakan hasil dari penjumlahan 551+2021.

Sayangnya, program reformasi itu hanya berlangsung sekitar 100 hari dan semua tokohnya dieksekusi atau melarikan diri ke luar negeri karena diburu penguasa dinasti Qing.

Alhasil, gerakan kampanye Konghucu menjadi gerakan oposisi pemerintah.

Kang Youwei melarikan diri ke Malaya, dan menyosialisasikan agama Konghucu di kalangan etnis Tionghoa –termasuk etnis Tionghoa di Jawa. Ini merupakan awal mula perkenalan masyarakat etnis Tionghoa di Jawa dengan agama Konghucu, atau ajaran Konghucu sebagai agama.

* * *

Pada tahun 1911, kaisar dinasti Qing dipaksa mundur. Kekuasaan dinasti berakhir. Di Beijing, berdiri pemerintahan baru Republik China (Zhonghua Minguo 中华民国) yang dipimpin oleh mantan pejabat militer dinasti Qing.

Ide republik, yaitu kedaulatan di tangan rakyat dan kesetaraan, memicu kekacauan sosial. Kondisi ini dibarengi dengan makin kuatnya hegemoni sosioekonomi dan budaya Barat terhadap China. Muncullah konsensus pada sebagian tokoh nasional China untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisional melalui pengukuhan ajaran Konghucu sebagai agama.

Tokoh yang paling berpengaruh dalam kampanye agama Konghucu kali ini adalah Chen Huanzhang (陈焕章).

Chen adalah pengikut Kang Youwei. Pada tahun 1905, Chen berangkat ke Amerika dan belajar filsafat di Universitas Columbia. Tahun 1911, Chen memperoleh gelar doktor filsafat. Karyanya, Economic Principles of Confucius and his Schools, diterbitkan oleh Colombia University Press.  Buku ini menjadi referensi para pakar ilmu ekonomi dan sosiologi Barat, seperti John Maynard Keynes, Joseph Schumpeter dan Max Weber.

Tahun 1912, Chen kembali ke China dan mendirikan Kongjiaohui 孔教会 (Asosiasi Agama Konghucu) di Shanghai dengan meniru struktur dan sistem kerja organisasi YMCA (Young Men Christian Association). Chen aktif menyosialisasikan ajaran Konghucu dengan bertindak sebagai pemimpin redaksi Majalah Asosiasi Agama Konghucu (Kongjiaohui Zazhi 孔教会杂志).

* * *

Tahun 1914, pecah perang di Eropa. China ikut dalam kubu yang sama dengan Amerika, Inggris, Perancis, dan Jepang. Tahun 1918, perang di Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman.

Sejak tahun 1898, semenanjung Shandong di China utara diduduki oleh Jerman. Pemerintah dan kaum intelektual China beranggapan bahwa dengan kekalahan Jerman, China berhak mengambil kembali wilayah Shandong tersebut.

Namun, ternyata Jepang bersikeras Shandong harus diserahkan ke Jepang. Celakanya, semua negara yang sekubu dengan China, tidak ada yang memihak China.

Akhirnya Shandong berpindah tangan dari Jerman ke Jepang. Ini memicu amarah dan intropeksi para intelektual muda China: China dihina karena lemah, China lemah karena budaya yang inferior (terutama karena ajaran Konghucu melumpuhkan semangat juang anak-anak muda).

Untuk diketahui, salah satu pilar dari ajaran Konghucu adalah setiap manusia harus tahu posisinya dalam masyarakat; orang-orang dari kelas sosial rendah tidak boleh menuntut haknya kepada orang-orang yang berkedudukan sosial tinggi.

Akhirnya, memasuki era 1920-an, di kalangan kaum intelektual China yang terdiri dari pelajar sekolah menengah dan mahasiswa, muncul gerakan pembaharuan budaya (new cultural movement) yang salah satu pilarnya adalah anti-Konghucu. Slogan mereka: “da dao Kongjia dian” (打到孔家店), ganyang ajaran Konghucu.

* * *

Memasuki akhir era 1920-an, Chen Huanzhang menyadari bahwa sulit melakukan kampanye ajaran Konghucu di dalam negeri. Dia memutuskan untuk fokus pada masyarakat etnis Tionghoa di Asia Tenggara dan Hongkong –yang waktu itu adalah jajahan Inggris.

Itulah sebabnya mengapa Konghucu menjadi agama di kalangan masyarakat etnis Tionghoa di Asia Tenggara dan Hongkong, namun tidak dikenal di China sana.

* * *

Sebagai penutup, dalam buku Analect (Lun Yu 论语) yang berisi dialog Konghucu dengan murid-muridnya, Konghucu menegaskan bahwa dirinya tidak ingin membahas makhluk supernatural dan hanya mau fokus membahas kehidupan sosial manusia. Konghucu tidak tertarik dengan dewa, Tuhan, iblis, surga, neraka, dan hal-hal transendental lainnya.

Lantas, apakah ajaran Konghucu adalah agama?

Jawabannya tergantung bagaimana kita masing-masing mendefinisikan apa itu agama.


Catatan Redaksi: Lun Yu dijadikan salah satu kitab suci agama Konghucu. Oleh MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia), Lun Yu diterjemahkan sebagai Sabda Suci.

Pernyataan Konghucu yang dikutip penulis di atas terdapat dalam Lun Yu bab 7 ayat 21. Bunyi aslinya: “子不语怪力乱神” (Zi bu yu guai li luan shen). MATAKIN dalam Su Si (Kitab yang Empat) hlm. 164 menerjemahkannya: “Nabi tidak membicarakan tentang kekuatan yang aneh-aneh dan rokh-rokh yang tidak karuan.” ‘Nabi’ dalam terjemahan MATAKIN itu merujuk kepada apa yang dalam teks asli sebut sebagai ‘Konghucu’ (Zi 子).

Pernyataan Konghucu tersebut masih menjadi perdebatan hingga kini. Antara yang mengimani ajaran Konghucu sebagai agama vs yang tidak, mempunyai pengertian dan penafsiran yang berbeda-beda.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

APAKAH Konfusianisme pendorong atau penghambat modernisasi? Pertanyaan ini sebenarnya kuno, tapi sering mencuat kembali. Maklum, soal itu sering dihubungkan dengan ”keajaiban” ekonomi Asia Timur...

Esai

”Saya menjadi semakin yakin, peristiwa kerusuhan Mei ’98 tidak akan pernah mendapat pengakuan”

Esai

Kita suku Tionghoa, adalah PRIBUMI INDONESIA, yang sejajar dengan seluruh suku-suku pribumi lain yang ada di NKRI

Kongkow

Kematian adalah saripati kehidupan