Connect with us

Ketik yang ingin anda cari

Aseng.id

Esai

Ngelawan Malaysia saja keok, kok mau ngelawan Cina?

Saat ini Cina sedang menjadi pemain yang sangat diperhitungkan dan kita tidak boleh tidak melakukan persiapan

© yukoart.com

SETELAH Novi Basuki alias Basuki Wang memaksa saya untuk menulis dengan beragam bujuk rayu yang ia gempurkan selama sekian purnama, akhirnya saya tak tega juga dan memutuskan untuk menuliskan sedikit yang saya tahu mengenai Cina.

Biar kelihatan otoritatif dan hitung-hitung untuk sekalian menyombongkan diri, saya merasa perlu terlebih dahulu memamerkan latar belakang keilmuan saya. Kalau mengenai latar belakang keluarga saya, itu biar jadi urusannya Lambe Turah saja.

Singkatnya begini; setelah mengenyam pendidikan S1 di Universitas Padjadjaran, saya melanjutkan studi D2 bahasa Mandarin di Peking University, sebuah kampus yang sangat prestisius di Cina sana. Lalu, saya kuliah S2 jurusan MBA di UIBE Beijing. Kemudian, saya bekerja 1 tahun di Tianjin, kota sebelahnya Beijing.

Saat ini, daripada meladeni Basuki Wang, saya lebih memilih menyibukkan diri mengerjakan hal-hal pokok yang berkenaan dengan bagaimana hubungan Indonesia-Cina tidak selesai hanya di tataran elite, tapi juga mengakar ke persoalan hubungan antarmanusia –atau yang kerennya disebut dengan people-to-people connectivity. Untuk mewadahi kegiatan-kegiatan ini, tentu dengan sebelumnya membuang jauh-jauh Basuki Wang, kami membentuk yang dinamakan Gentala Institute.

* * *

Ketika saya menulis ini, sambil menunggu azan Magrib di sebuah lokasi di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, saya coba mengingat-ingat materi-materi apa yang biasanya akan laku dibaca oleh kawula muda Indonesia terkait Cina. Sementara di TV, sedang tidak habis-habisnya membahas mengenai menteri yang baru saja tertangkap KPK.

Memang, kalau kita bicara mengenai korupsi, sangatlah erat kaitannya dengan kompetensi dan akuntabilitas.

Kan iya? Coba kita lihat, umumnya banyak kasus korupsi yang terjadi di Indonesia bukanlah karena Sang Koruptor itu kekurangan uang, namun justru kebanyakan sudah memiliki taraf hidup yang bergelimang harta! Kacau, kacau…

Makanya saya jadi sadar, korupsi adalah salah satu dari sekian banyak PR yang harus segera diselesaikan generasi muda Indonesia ke depan.

“Sediakan 100 peti mati di mana 99-nya untuk para koruptor dan 1 untuk diriku sendiri jika terbukti melakukan tindak pidana korupsi!”

Ungkapan tersebut diucapkan oleh Zhu Rongji (朱镕基), perdana Menteri Cina yang menjabat sejak 1988 hingga 1991.

Itu di Cina.

Sekarang kalau kita berbicara konteks Indonesia, maka inventarisasi tantangan ke depan tentu sangatlah banyak –selain dari persoalan korupsi yang tidak hanya telah me-raja-lela, tetapi juga sudah me-ratu-lela. Bagaimana tidak? Pelaku korupsi di Indonesia sudah sangat merata secara gender: baik itu laki-laki maupun perempuan.

Lanjut tidak?

Nah, sejak akhir tahun 1978, Cina memulai kebijakan Reformasi dan Keterbukaan (gaige kaifang 改革开放). Dari situ paradigma-paradigma ‘jago kandang’ didorong untuk bisa memiliki orientasi persaingan global.

Dan memang betul. Sejak saat itu, muncul kebijakan-kebijakan yang mengakomodasi para pebisnis Cina untuk mencari inspirasi ke luar negaranya dan tentu dilengkapi dengan ‘zona nyaman’ untuk bisa mengekspor produk-produk Cina agar bisa diperhitungkan di pasar global.

Walakin, —meminjam istilah Basuki Wang ketika kehabisan konjugasi kata—, kebijakan Reformasi dan Keterbukaan Cina itu merupakan bagian dari reformasi ekonomi negara mereka –sehingga bisa dilakukan sinkronisasi dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun (5-year Plan) yang telah dilakukan sejak tahun 1953 sampai dengan saat ini.

Artinya apa? Artinya, Cina punya rencana jangka panjang dan punya pandangan jauh ke depan sejak jauh-jauh hari.

Sinkronisasi kedua, yaitu soal SDM mereka yang memang telah siap (atau lebih tepatnya disiapkan?) untuk menghadapi persaingan global.

Menurut web-blog Jiemodui, pada tahun 2018 ada sekitar 662.100 orang mahasiswa/i Cina yang utamanya berstudi di Amerika Serikat, Australia, Korsel, Kanada, dan Inggris.

Ketika reformasi ekonomi digalakkan pemerintah Cina sejak tahun 1978, tentu talenta yang paling dicari adalah mereka yang memiliki alat kompetensi persaingan global. Yakni berupa kemahiran berbahasa dan berbudaya –sehingga para pemuda/i yang telah lulus dari luar negeri bisa mengisi posisi-posisi kerja di dalam negeri yang pas dengan skil mereka.

* * *

Lalu, apa hubungan kebangkitan Cina dengan kita? Tentu kita bisa mempelajari banyak hal dari bagaimana negara mereka menyiapkan SDM-nya secara baik.

Pertama, ketahuilah dahulu ‘kenapa’-nya, baru ‘bagaimana’-nya, lalu ‘apa’-nya. Karena kebanyakan dari kawula muda Indonesia mungkin masih berpatokan pada ‘apa’-nya dulu.

(Kalau Akhiinaa Basuki Wang, sih, sudah berhasil dicuci otaknya di Cina. Makanya dia enggak perlu lagi didakwahi perihal ‘kenapa’ ini. Lihat saja tulisan-tulisannya, sangat menyebalkan, bukan? Dia sudah kaffah.)

Ketika kita mengetahui ‘kenapa’, maka motivasi untuk bisa melanjutkan apapun yang menjadi arah dan tujuan hidup kita niscaya akan lebih jelas.

Kedua, harus paham mengenai definisi antara alat, cara, dan tujuan. Karena lagi-lagi, ketika hal ‘kenapa’-nya kurang bisa dipahami dan ditemukan, maka ketika membedakan antara alat, cara, dan tujuan, otomatis akan memiliki kebimbangan yang cukup mendalam.

Misalnya saja, kita mau ke Surabaya dari Jakarta, tentu banyak alat yang bisa kita gunakan. Misal, alat transportasinya: mobil pribadi. Cara kita menuju Surabaya pun tentu beragam: bisa lewat tol atau Pantura biasa. Tapi yang jelas, kita juga paham bahwa Surabaya-lah tujuannya, bukan mobilnya dan bukan kita melewati tol yang bikin kita nyaman di perjalanan.

Artinya, banyak dari kita yang masih belum bisa memilah atau memilih soal yang satu itu. Di saat kita melihat bahwa mobil yang mewah adalah tujuan, di saat bepergian melewati tol yang megah adalah tujuan, niscaya akan membuat kita lupa tujuan kita awalnya adalah ke Surabaya. Subhanallah, betapa bijaknya saya…

Ketiga, kalau tujuan kita adalah competitiveness, berarti kita harus melihat konteks dari kebutuhan kompetensi itu dari aspek kekinian dan ‘keterdisinian’.

Saat ini Cina sedang menjadi pemain yang sangat diperhitungkan. Dulu mungkin kita mengenal bahwa barang-barang asal Cina berupa merchandise, alat makan, mainan yang murah-murah, dan sebagainya. Namun saat ini handphone, laptop, otomotif, pesawat komersil, roket, bahkan satelit pun sudah bisa dibuat oleh Cina.

Dan hal yang paling penting adalah: letak geografis negara Cina dan negara Indonesia itu sangat relevan dari segi jarak. Masih dalam satu kawasan Asia. Dari Jakarta ke Cina pun hanya 4 jam ke kota di Cina selatan.

Maksud saya, kalau kita terlalu terpaku untuk memiliki orientasi kompetensi kepada negara-negara Amerika, Eropa, Australia, dll. yang kurang #masukPakEko kebermanfaatannya, untuk apa kita nyodok-nyodok mau punya skil seperti itu? Toh, ketika kita asyik ke negara-negara Amerop untuk berstudi, dan ketika kita balik lagi ke Indonesia, yang kita temui justru tantangan-tantangan yang berkenaan dengan perusahaan-perusahaan Cina yang sedang gencar-gencarnya berinvestasi di Indonesia? Ye, kaaan?

* * *

Abad Cina sudah jelas gamblang di depan mata. Dan, paling tidak sampai 20 tahun ke depan masih revelan.

Tentu, kalau tujuan kita untuk mengalahkan Cina, itu sudah tidak mungkin! Wong sama Malaysia saja kita juga sudah kalah dari banyak aspek, kok.

Karena itu, competitiveness tadi marilah kita arahkan untuk hal-hal yang berkenaan dengan kolaborasi dan kerja sama.

Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, kuasai bahasa Mandarin. Penguasaan bahasa aseng ini adalah salah satu PR besar untuk bagaimana menjadikan tujuan agar SDM kita bisa berkolaborasi dan bekerja sama, bisa lebih riil tercapai, dan bukan cuma berwujud janji-janji politik yang menyesatkan.

Akhirulkalam, sebagaimana kata Sun Tzu (孙子), “Zhi ji zhi bi, bai zhan bu dai; bu zhi bi er zhi ji, yi sheng yi fu; bu zhi bi bu zhi ji, mei zhan bi dai” (知己知彼,百战不殆; 不知彼而知己,一胜一负;不知彼,不知己,每战必殆).

Yang artinya, “Kenali dirimu dan kenali lawanmu, niscaya kau akan selalu memenangi pertempuran; jika kau hanya mengenal dirimu tapi tidak mengenal lawanmu, kau bisa saja menang tapi bisa juga kalah; kalau kau tak mengenal dirimu juga tak mengenal musuhnya, kau pasti akan kalah dalam tiap pertempuran.”

Takbir!

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel menarik lainnya

Esai

Indonesia seyogianya adalah negara yang paling tahu tentang perkembangan China. Caranya ialah dengan membaca yang tersirat, bukan melulu yang tersurat

Esai

Kalau tidak diiming-imingi akan menjadi kaya, bisa jadi tidak akan ada orang China yang percaya komunisme

Esai

Negara China memang bilang menganut ideologi komunisme, tapi satu negara itu isinya orang-orang kapitalis semua

Esai

KETIKA memimpin rapat ke-12 Komite Pusat Pendalaman Reformasi Komprehensif pada 14 Februari 2020 lalu, Presiden China Xi Jinping menyatakan perang melawan COVID-19 ”adalah ujian...